Internasional
Beranda / Internasional / Dominasi Udara AS atas Iran: Timur Tengah di Ambang Eskalasi Perang Besar

Dominasi Udara AS atas Iran: Timur Tengah di Ambang Eskalasi Perang Besar

Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth dalam konferensi Pers, Rabu (4/3). (Foto: Info Massa/Ist).

Info Massa – Operasi militer gabungan antara United States dan Israel terhadap Iran menunjukkan eskalasi signifikan dalam dinamika keamanan Timur Tengah. Dalam konferensi pers di Pentagon pada Rabu, 4 Maret 2026, Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth menyatakan bahwa militer Amerika Serikat akan segera menguasai wilayah udara Iran.

“Amerika Serikat akan memiliki kendali penuh dan tanpa tandingan atas wilayah udara Iran dalam beberapa hari ke depan. Iran tidak akan mampu bertahan menghadapi kekuatan militer Amerika,” ujar Hegseth dikutip The Guardian, Rabu (4/3).

Pernyataan tersebut menegaskan keyakinan Washington bahwa kekuatan militer Iran tidak akan mampu menahan tekanan militer Amerika Serikat dan sekutunya. Hegseth juga menyebut kemampuan militer Iran terus melemah seiring berjalannya operasi militer.

Menurut Hegseth, operasi militer yang dimulai pada Sabtu, 28 Februari 2026 telah menghasilkan kekuatan udara yang sangat besar. Ia mengklaim intensitas serangan udara tersebut bahkan mencapai dua kali lipat dari operasi shock and awe yang dilakukan Amerika Serikat saat invasi Irak pada tahun 2003.

Dalam konferensi pers yang sama, Ketua Kepala Staf Gabungan militer Amerika Serikat Dan Caine menyampaikan bahwa kemampuan militer Iran telah mengalami penurunan signifikan sejak dimulainya konflik.

Pedro Sanchez ancam Trump Untuk Putus Kerjasama Spanyol-Amerika

“Kemampuan rudal balistik Iran telah berkurang hingga 86 persen sejak hari pertama konflik dimulai,” kata Caine.

Selain itu, ia menyebut bahwa sebagian besar kekuatan angkatan laut Iran telah dihancurkan, sementara sejumlah pemimpin militer senior Iran dilaporkan tewas atau bersembunyi.

Data militer Amerika Serikat menunjukkan bahwa lebih dari 2.000 target militer Iran telah diserang dalam operasi tersebut, termasuk pangkalan militer, sistem pertahanan udara, serta fasilitas rudal. Operasi militer tersebut juga dilaporkan telah menghancurkan lebih dari 20 kapal perang Iran.

Keunggulan udara yang diperoleh Amerika Serikat memungkinkan perubahan strategi serangan. Pada tahap awal operasi, militer AS menggunakan senjata jarak jauh seperti rudal jelajah dan munisi presisi yang diluncurkan dari luar jangkauan sistem pertahanan udara Iran.

Namun setelah sistem pertahanan udara Iran melemah, militer AS mulai menggunakan bom berpemandu GPS dan laser yang dijatuhkan langsung dari pesawat tempur di wilayah udara Iran.

Gubernur Jakarta Imbau Ratusan Pejabat Fungsional Sejalan Dengan Visi Kota Global

Hegseth bahkan menyatakan bahwa Amerika Serikat memiliki persediaan munisi tersebut dalam jumlah yang hampir tidak terbatas.

Selain operasi udara, konflik juga melibatkan operasi laut. Hegseth mengungkapkan bahwa kapal selam Amerika Serikat menenggelamkan kapal perang Iran di Samudra Hindia menggunakan torpedo. Ia menyebut insiden tersebut sebagai penenggelaman kapal musuh pertama oleh torpedo AS di kawasan tersebut sejak World War II.

Di tengah operasi militer tersebut, Iran meluncurkan serangan balasan dengan lebih dari 500 rudal balistik dan sekitar 2.000 drone serangan ke berbagai target di kawasan Timur Tengah.

Beberapa negara di kawasan dilaporkan turut membantu mencegat serangan tersebut, termasuk Jordan, Bahrain, Saudi Arabia, United Arab Emirates, Qatar, dan Kuwait.[]

Inflasi Tangerang 4,64 Persen: Stabil bagi Statistik, Berat bagi Rakyat
× Advertisement
× Advertisement