Internasional
Beranda / Internasional / Putri Khadafi Keluarkan Peringatan Keras untuk Iran: Bernegosiasi dengan Serigala Tidak Akan Menyelamatkan Anak Domba

Putri Khadafi Keluarkan Peringatan Keras untuk Iran: Bernegosiasi dengan Serigala Tidak Akan Menyelamatkan Anak Domba

Aisha Khadafi, putri mendiang pemimpin Libya Muammar Khadafi. (Foto: Info Massa/Istimewa).

Info Massa – Aisha Khadafi, putri mendiang pemimpin Libya Muammar Khadafi, kembali menjadi sorotan internasional setelah menyampaikan pernyataan politik yang sangat tegas yang ditujukan kepada rakyat dan elite politik Iran.

Dalam pesan yang beredar melalui pernyataan tertulis dan kanal-kanal media Timur Tengah, Aisha menyampaikan peringatan tajam terhadap apa yang ia sebut sebagai “jebakan diplomasi Barat” yang telah menghancurkan Libya dan berpotensi mengancam kedaulatan Iran.

Dalam pesannya, Aisha menegaskan bahwa tragedi Libya bukanlah peristiwa kebetulan, melainkan hasil dari rangkaian keputusan politik yang didasarkan pada kepercayaan berlebihan terhadap janji-janji negara-negara Barat.

Ia mengingatkan bahwa pada awal 2000-an, Muammar Khadafi memilih untuk menghentikan program nuklir dan membongkar sebagian besar persenjataan strategis Libya dengan harapan akan memperoleh pengakuan internasional, pencabutan sanksi, serta normalisasi hubungan dengan Amerika Serikat dan Eropa.

Namun, menurut Aisha, janji tersebut berakhir sebagai ilusi politik. Pada 2011, ketika gelombang Arab Spring melanda kawasan, NATO melakukan intervensi militer di Libya dengan dalih “melindungi warga sipil”.

DPR ke BGN: Keberhasilan MBG Bukan Penerima Manfaat

Operasi itu berujung pada tumbangnya rezim Khadafi, terbunuhnya Muammar Khadafi, serta runtuhnya struktur negara Libya yang hingga kini masih terperosok dalam konflik berkepanjangan.

“Bernegosiasi dengan serigala tidak akan menyelamatkan anak domba,” tulis Aisha dalam pernyataannya, menggunakan metafora tajam untuk menggambarkan relasi kekuatan antara negara-negara besar Barat dan negara-negara Global South seperti Libya dan Iran.

Ia menilai bahwa Barat tidak pernah benar-benar menginginkan stabilitas negara-negara independen yang menantang hegemoni mereka.

Sebaliknya, menurutnya, pendekatan diplomasi sering kali digunakan sebagai alat untuk melemahkan, membelah, dan pada akhirnya mengendalikan negara sasaran.

Dalam pesannya kepada rakyat Iran, Aisha memuji ketahanan Teheran dalam menghadapi sanksi ekonomi, tekanan politik, dan ancaman militer selama bertahun-tahun. Ia menyebut sikap tersebut sebagai manifestasi kehormatan nasional dan kedaulatan yang sejati.

Raker Bank Jakarta, Pram: Persiapkan Diri Menuju IPO

“Bertahan di bawah tekanan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti martabat sebuah bangsa,” tegasnya.

Aisha juga mengkritik gagasan bahwa kompromi besar dengan Barat otomatis akan membawa perdamaian.

Menurutnya, pengalaman Libya menunjukkan bahwa konsesi strategis justru membuka celah intervensi, konflik internal, dan disintegrasi negara.

Ia mengaitkan argumennya dengan perspektif sejarah, menyatakan bahwa bangsa-bangsa yang teguh mempertahankan prinsip perlawanan akan dikenang sebagai pejuang martabat nasional, sementara negara yang menyerah pada tekanan asing berisiko kehilangan identitas dan kedaulatannya di panggung dunia.

Selain itu, Aisha menutup pesannya dengan seruan solidaritas tidak hanya untuk Iran, tetapi juga untuk rakyat Palestina yang tengah menghadapi pendudukan dan agresi militer.

PKS Berikan Panggung Untuk Pemuda Lewat Indonesia Muda Bicara

Ia menegaskan bahwa perjuangan melawan imperialisme dan dominasi asing adalah perjuangan bersama dunia Muslim dan negara-negara tertindas.

Pernyataan Aisha Khadafi ini langsung memicu perdebatan luas di media sosial dan ruang publik Timur Tengah. Pendukungnya memandang pesan tersebut sebagai kritik valid terhadap politik Barat, sementara pihak lain menilai retorikanya terlalu konfrontatif dan berisiko memperdalam ketegangan geopolitik.

Meski demikian, satu hal jelas: suara Aisha kembali menghidupkan memori kolektif tentang Libya pasca-2011 dan menempatkannya sebagai simbol peringatan bagi negara-negara yang berhadapan dengan kekuatan besar dunia.[]

× Advertisement
× Advertisement