Opini
Beranda / Opini / Peranakan dan Totok dalam Struktur Migrasi dan Kapitalisme Kolonial

Peranakan dan Totok dalam Struktur Migrasi dan Kapitalisme Kolonial

Buku Onghokham yang berjudul Migrasi Cina, Kapitalisme Cina dan Anti Cina menerangkan dengan gamblang antara totok dan peranakan.

(Dengan rujukan langsung pada Onghokham)

Info Massa – Dalam Migrasi Cina, Kapitalisme Cina dan Anti Cina, Onghokham menegaskan bahwa migrasi Tionghoa ke Jawa tidak bisa dipahami semata sebagai perpindahan etnis, melainkan sebagai bagian dari dinamika ekonomi regional. Ia menulis bahwa:

“Migrasi orang Cina ke Jawa sejak abad-abad awal pada dasarnya berkaitan dengan perdagangan dan jaringan ekonomi Asia Tenggara.”

Pernyataan ini penting, karena sejak awal Onghokham memposisikan komunitas Tionghoa sebagai aktor ekonomi yang terintegrasi dalam arus kapitalisme maritim, bukan kelompok yang terisolasi secara kultural. Dengan demikian, kategori totok dan peranakan tidak berdiri di ruang hampa, melainkan terbentuk dalam relasi ekonomi dan politik tertentu.

Mengenai identitas peranakan, Onghokham menunjukkan proses lokalisasi yang berlangsung lintas generasi. Ia mencatat bahwa:

Israel Gabung “Board of Peace” Inisiatif Trump, Tuai Kritik Soal Legitimasi dan Kolonialisme

“Sebagian besar orang Cina peranakan sudah tidak lagi berbahasa Cina dan secara kultural lebih dekat dengan masyarakat setempat.”

Kutipan ini menegaskan bahwa peranakan bukanlah “Cina yang setengah jadi”, melainkan hasil sejarah panjang akulturasi. Identitas mereka terbentuk dalam ruang sosial Jawa, dalam bahasa Melayu pasar, dalam struktur kota-kota pesisir, dan dalam interaksi sehari-hari dengan masyarakat lokal.

Sebaliknya, tentang totok, Onghokham menggambarkan kuatnya orientasi pada negeri asal dan jaringan antarpelabuhan:

“Orang Cina totok masih mempertahankan hubungan erat dengan tanah leluhur, baik melalui bahasa, pendidikan, maupun jaringan perdagangan.”

Namun Onghokham juga mengingatkan bahwa batas antara keduanya tidaklah mutlak. Identitas bisa berubah seiring waktu. Proses pendidikan, perkawinan, dan mobilitas sosial membuat garis pemisah itu semakin kabur. Dengan kata lain, peranakan dan totok adalah kategori historis, bukan kategori esensial.

Mahasiswa Desak DPRD Kabupaten Tangerang Audit Proyek Griya Atha, Diduga Serobot Lahan Sawah Dilindungi

Lebih tajam lagi, Onghokham mengaitkan posisi ekonomi komunitas Tionghoa dengan munculnya sentimen anti-Cina. Ia menyatakan:

“Kebencian terhadap orang Cina dalam sejarah Jawa sering kali tidak dapat dilepaskan dari posisi mereka dalam struktur ekonomi kolonial.”

Dengan demikian di sini terlihat jelas bahwa persoalan identitas tidak berdiri sendiri. Dalam sistem kolonial yang membagi masyarakat ke dalam kategori hukum baik Eropa, Pribumi, dan Timur, bahwa orang Tionghoa sering ditempatkan sebagai perantara ekonomi. Posisi ini menciptakan ambivalensi: dibutuhkan dalam sistem kapitalisme kolonial, tetapi sekaligus rentan dijadikan kambing hitam ketika terjadi krisis.

Membaca Onghokham secara reflektif berarti menyadari bahwa dikotomi peranakan–totok bukanlah sekadar klasifikasi budaya, melainkan produk sejarah migrasi, kapitalisme, dan politik kolonial. Identitas Tionghoa di Jawa dibentuk oleh negosiasi terus-menerus antara adaptasi lokal dan jaringan global. Oleh karena itu, mengulang dikotomi tersebut tanpa konteks historis berisiko menyederhanakan realitas yang jauh lebih kompleks.

Pada akhirnya, seperti yang tersirat dalam keseluruhan analisis Onghokham, persoalan “Cina” di Indonesia bukan soal asal-usul biologis, melainkan soal struktur sosial dan ekonomi yang membentuk relasi antar-kelompok. Sejarah menunjukkan bahwa identitas selalu berada dalam proses dan justru di situlah letak dinamika kebangsaan Indonesia.[]

Britney Spears Menjual Hak Musiknya Dengan Harga 200 Juta Dolar

× Advertisement
× Advertisement