Ragam Massa
Beranda / Ragam Massa / Viral Mural HUT ke-81 RI, Sindiran “Indonesia Berdaulat, Adil untuk yang Makmur” Jadi Sorotan

Viral Mural HUT ke-81 RI, Sindiran “Indonesia Berdaulat, Adil untuk yang Makmur” Jadi Sorotan

Screenshot potongan Video mural dalam menyambut HUT RI ke-81 dimana menggambarkan dua sosok yang sangat kontras. (Foto: Info Massa/Ist)

Info Massa – Selalu ada yang menarik dalam agenda tahunan di berbagai daerah hingga pelosok kampung saat menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia. Memasuki peringatan HUT ke-81 RI pada 17 Agustus 2026, kreativitas masyarakat kembali menghadirkan beragam cara untuk memaknai kemerdekaan.

Kali ini, sebuah pemandangan berbeda menarik perhatian warganet. Dalam video yang disebut pertama kali diunggah dan kemudian beredar luas di media sosial X melalui akun @hardiye76, terlihat sebuah lukisan atau mural di permukaan jalan yang sarat pesan sosial.

Mural tersebut memperlihatkan dua sosok manusia dengan kondisi yang sangat kontras. Di satu sisi digambarkan seorang pria bertubuh besar, sementara di sisi lainnya tampak seorang pria bertubuh sangat kurus dengan posisi membungkuk. Keduanya seolah berhadapan, dipisahkan oleh komposisi warna merah dan putih yang identik dengan bendera Indonesia.

Yang semakin menarik perhatian adalah tulisan yang menyertai karya tersebut:

“Indonesia Berdaulat, Adil untuk yang Makmur.”

Semarak HUT ke-81 RI, DPAD Kota Tangerang Gelar Lomba Baca Puisi Khusus Jurnalis

Kalimat itu terdengar seperti permainan sekaligus kritik terhadap cita-cita keadilan sosial. Alih-alih menggunakan ungkapan “adil dan makmur”, frasa “adil untuk yang makmur” dapat dibaca sebagai sindiran mengenai ketimpangan: seolah keadilan justru lebih mudah dirasakan oleh mereka yang telah hidup berkecukupan.

Visual dua manusia dengan kondisi tubuh bertolak belakang semakin memperkuat tafsir tersebut. Sosok bertubuh besar dapat dimaknai sebagai simbol kelompok yang menikmati kelimpahan, sedangkan sosok kurus menggambarkan mereka yang masih harus berjuang memperoleh kesejahteraan.

Di tengah semarak merah putih, perlombaan, pemasangan umbul-umbul hingga berbagai kegiatan masyarakat menyambut HUT ke-81 RI, karya semacam ini menunjukkan bahwa perayaan kemerdekaan juga dapat menjadi ruang refleksi dan kritik sosial.

Kemerdekaan bukan hanya perkara mengenang perjuangan masa lalu. Delapan puluh satu tahun setelah Indonesia merdeka, pertanyaan mengenai sejauh mana kemerdekaan menghadirkan keadilan dan kesejahteraan yang dapat dirasakan seluruh lapisan masyarakat tetap relevan untuk direnungkan.

Dan mungkin, itulah kekuatan gambar sederhana tersebut. Tanpa pidato panjang, dua sosok yang saling berhadapan dan sebuah kalimat pendek mampu menyampaikan pertanyaan besar:

CKG Kota Tangerang Capai 98 Persen, Sachrudin: Jangan Takut Ketahuan Penyakit

Indonesia sudah berdaulat, tetapi apakah keadilannya sudah benar-benar untuk semua?

× Advertisement
× Advertisement