Info Massa – Kelompok negara maju yang tergabung dalam G7 secara resmi mendesak pemulihan stabilitas di jalur perdagangan global yang krusial. Dalam pertemuan para diplomat senior yang berlangsung di Kota Vaux-de-Cernay, Prancis, G7 menyoroti pentingnya menjaga Selat Hormuz tetap terbuka dan aman bagi pelayaran internasional.
Dalam pernyataan bersama yang dirilis usai pertemuan tersebut, negara-negara G7 menekankan bahwa kelancaran arus lalu lintas di Selat Hormuz bukan sekadar masalah regional, melainkan keharusan hukum internasional.
“Kami menegaskan kembali perlunya pemulihan permanen kebebasan navigasi yang aman dan bebas hambatan di Selat Hormuz yang sesuai dengan Resolusi Dewan Keamanan PBB 2817 dan Hukum Laut,” bunyi pernyataan resmi tersebut.
Seruan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan yang mengancam jalur distribusi energi dunia. Dengan merujuk pada Resolusi Dewan Keamanan PBB 2817, G7 memberikan sinyal kuat bahwa tindakan yang menghambat navigasi adalah pelanggaran terhadap konsensus global.
Selat Hormuz merupakan titik nadi perdagangan minyak dunia, di mana gangguan kecil sekalipun dapat memicu guncangan ekonomi global. Oleh karena itu, G7 menuntut adanya jaminan keamanan yang bersifat permanen, bukan sekadar solusi sementara.
Selain masalah navigasi, pertemuan di Prancis tersebut juga menaruh perhatian besar pada aspek kemanusiaan dalam konflik bersenjata yang sedang berlangsung. Para diplomat G7 mendesak semua pihak yang bertikai untuk segera menghentikan serangan yang menyasar penduduk non-kombatan.
“Para diplomat kelompok G7 juga mendesak penghentian serangan terhadap warga sipil serta infrastruktur sipil,” tulis laporan tersebut.
G7 mengutuk keras segala bentuk agresi terhadap fasilitas yang seharusnya dilindungi oleh hukum internasional.
“Tidak ada pembenaran untuk penargetan sengaja terhadap warga sipil dalam situasi konflik bersenjata serta serangan terhadap fasilitas diplomatik.”
Pernyataan kolektif ini dianggap sebagai upaya G7 untuk menggalang opini publik internasional dalam menekan aktor-aktor yang terlibat konflik agar mematuhi konvensi Jenewa dan aturan laut internasional.
Pertemuan di Vaux-de-Cernay ini menjadi pengingat bahwa keamanan energi dan penghormatan terhadap hak asasi manusia adalah dua pilar yang tidak dapat dipisahkan dalam menjaga stabilitas geopolitik saat ini. []

