Info Massa – Setiap menjelang Ramadan atau Idulfitri, masyarakat Indonesia sering kali mendapati Muhammadiyah telah menetapkan tanggal jauh-jauh hari sebelum Pemerintah menggelar Sidang Isbat. Kepastian ini bukan tanpa dasar; Muhammadiyah menggunakan landasan matematis dan astronomis yang sangat spesifik.
Berikut adalah sejumlah fakta kunci mengenai bagaimana organisasi Islam tertua di Indonesia ini menentukan hari-hari besar keagamaan:
1. Penggunaan Metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal
Berbeda dengan Pemerintah yang masih mengandalkan Rukyatul Hilal (pemantauan fisik bulan), Muhammadiyah menggunakan metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal.
Metode ini berfokus pada posisi matematis Bulan terhadap Matahari dan Bumi secara presisi. Muhammadiyah menganggap bahwa ibadah harus memiliki kepastian waktu, dan ilmu astronomi (falak) saat ini sudah sangat maju untuk menghitung posisi benda langit hingga ribuan tahun ke depan.
2. Tiga Kriteria Penentu “Wujud”
Bagi Muhammadiyah, bulan baru (awal bulan hijriah) dianggap sudah dimulai jika memenuhi tiga syarat kumulatif dalam satu hari yang sama:
- Sudah terjadi Konjungsi (Ijtimak): Posisi Bumi, Bulan, dan Matahari berada dalam satu garis lurus secara astronomis.
- Konjungsi terjadi sebelum Matahari Terbenam.
- Bulan masih berada di atas ufuk (horizon): Saat matahari terbenam, posisi piringan bulan masih berada di atas garis cakrawala, meskipun hanya 0,1 derajat atau kurang.
3. Prinsip “Kepastian” vs “Visual”
Salah satu alasan kuat Muhammadiyah tetap menggunakan metode ini adalah untuk memberikan kepastian hukum (legal certainty). Dengan hisab, jadwal salat, puasa, dan lebaran bisa disusun dalam kalender tahunan tanpa harus menunggu pengamatan mata yang sering kali terkendala cuaca mendung atau polusi cahaya.
4. Perbedaan dengan Kriteria MABIMS
Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Agama, saat ini menggunakan kriteria baru yang disepakati bersama negara tetangga (MABIMS). Kriteria ini menetapkan bahwa hilal hanya bisa dianggap “terlihat” jika tingginya minimal 3 derajat dengan elongasi 6,4 derajat.
Fakta Penting: Jika posisi bulan berada di antara 0 hingga 3 derajat, Muhammadiyah akan menyatakan sudah masuk bulan baru, sementara Pemerintah kemungkinan besar akan menggenapkan bulan sebelumnya (istikmal). Inilah yang sering memicu perbedaan hari raya.
Perbandingan Singkat: Hisab vs. Rukyat
Fitur Muhammadiyah (Hisab) Pemerintah (Rukyat + Hisab) Landasan Perhitungan Matematika/Astronomi Pengamatan Mata + Perhitungan Batas Minimum Asalkan di atas 0 derajat Minimal 3 derajat (Kriteria MABIMS) Waktu Penetapan Bisa bertahun-tahun sebelumnya Menunggu Sidang Isbat (H-1) Tujuan Utama Penataan kalender global yang rapi Konfirmasi faktual visibilitas bulan.
5. Menuju Kalender Islam Global Tunggal
Muhammadiyah kini tengah mendorong penggunaan Kalender Islam Global Tunggal (KIGT). Visi ini bertujuan agar seluruh umat Muslim di dunia memiliki satu penanggalan yang seragam, sehingga tidak ada lagi perbedaan hari raya antarnegara maupun antarorganisasi di masa depan.
Penetapan hari raya bukan sekadar urusan teknis, melainkan perpaduan antara ketaatan spiritual dan kemajuan ilmu pengetahuan. Meski sering terjadi perbedaan, semangat toleransi tetap menjadi kunci utama dalam menjaga ukhuwah Islamiyah di Indonesia. []

