Info Massa – Pada 15 Februari 1958 di Tokyo, Presiden Soekarno menulis kalimat sederhana namun mengguncang batas-batas nasionalisme sempit: “Kemerdekaan bukanlah milik suatu bangsa saja, tetapi milik semua manusia.” Pesan itu ditujukan kepada dua orang Jepang yakni Ichiki Tatsuo dan Tomegoro Yoshizumi yang memilih berdiri di sisi Republik Indonesia dalam perang melawan kolonialisme Belanda.
Kalimat tersebut bukan sekadar ungkapan terima kasih. Ia adalah pernyataan moral yang menempatkan kemerdekaan sebagai nilai universal, bukan hak eksklusif suatu bangsa.
Sejarah sering ditulis dalam kerangka “kita” melawan “mereka.” Namun kisah Ichiki dan Yoshizumi meruntuhkan dikotomi itu. Mereka datang sebagai bagian dari bangsa penjajah, tetapi memilih berpihak pada rakyat yang dijajah.
Ichiki Tatsuo, yang kemudian diberi nama Abdul Rachman oleh Agus Salim, gugur sebagai komandan gerilya melawan Belanda. Yoshizumi, yang mendapat nama Arif dari Tan Malaka, mengubah perannya dari agen propaganda menjadi pejuang kemerdekaan.
Kisah mereka menunjukkan bahwa nasionalisme yang sehat tidak menutup diri dari solidaritas lintas bangsa. Sebaliknya, ia justru diperkuat oleh pengakuan bahwa nilai kemerdekaan bersifat universal.
Perjalanan Yoshizumi memperlihatkan sesuatu yang jarang dibicarakan: kesadaran politik dapat berubah. Ia datang dengan membawa slogan imperial “Asia untuk Asia.”
Transformasi ini relevan hingga kini. Ia mengingatkan bahwa ideologi, propaganda, dan identitas nasional dapat berubah ketika berhadapan dengan pengalaman ketidakadilan yang nyata. Solidaritas sejati lahir bukan dari kesamaan asal-usul, melainkan dari kesamaan nilai.
Kemerdekaan sebagai Etika Global
Pesan Soekarno di Tokyo mengandung dimensi etika global. Ia menegaskan bahwa kemerdekaan bukan hanya tujuan politik, tetapi prinsip moral yang melampaui batas negara.
Dalam konteks dunia pasca-Perang Dunia II, pernyataan itu selaras dengan gelombang dekolonisasi di Asia dan Afrika. Indonesia bukan kasus tunggal, melainkan bagian dari perjuangan global melawan penindasan.
Namun refleksi ini juga relevan hari ini. Ketika konflik, pengungsian, dan penindasan masih terjadi di berbagai belahan dunia, pesan Soekarno menantang kita:
apakah kita memandang kemerdekaan sebagai hak universal atau hanya hak bagi mereka yang kebetulan sebangsa dengan kita?
Nama Ichiki Tatsuo dan Tomegoro Yoshizumi jarang muncul dalam buku pelajaran. Mereka bukan pahlawan nasional Indonesia, bukan pula tokoh utama dalam narasi Jepang modern. Mereka berada di ruang antara dimana ruang yang sering diabaikan sejarah resmi.
Namun justru di ruang itulah makna kemerdekaan menjadi paling jernih. Kemerdekaan tidak lahir dari keseragaman identitas, melainkan dari keberanian individu untuk berpihak pada keadilan, bahkan ketika itu berarti melawan asal-usulnya sendiri.
Refleksi ini penting bagi Indonesia kontemporer. Nasionalisme sering dipersempit menjadi slogan, simbol, atau sentimen eksklusif. Padahal sejarah menunjukkan bahwa kemerdekaan Indonesia justru lahir dari jejaring solidaritas yang luas baik lintas etnis, agama, dan bahkan bangsa.
Mengakui peran orang asing dalam perjuangan kemerdekaan bukanlah mengurangi nasionalisme. Sebaliknya, itu memperkaya makna Indonesia sebagai proyek kemanusiaan, bukan sekadar proyek kebangsaan.
Pesan Soekarno di Tokyo adalah pengingat bahwa kemerdekaan bukan warisan yang selesai. Ia adalah tanggung jawab yang harus terus diperjuangkan. Bukan hanya untuk bangsa sendiri, tetapi untuk kemanusiaan.
Ichiki dan Yoshizumi telah menunjukkan bahwa keberpihakan pada kemerdekaan tidak ditentukan oleh tempat lahir, melainkan oleh keberanian moral.
Dan mungkin, di tengah dunia yang kembali dipenuhi sekat identitas, pesan itu terdengar lebih relevan daripada sebelumnya:
Kemerdekaan bukan milik satu bangsa. Ia milik semua manusia.
