Info Massa – Lebaran di Indonesia bukan sekadar perayaan keagamaan, melainkan sebuah simfoni budaya yang unik. Dari macetnya jalur mudik hingga gurihnya ketupat di meja makan, setiap elemen memiliki cerita masa lalu yang membentuk identitas bangsa.
Meskipun zaman berganti menjadi serba digital, tradisi-tradisi ini tetap relevan dan justru semakin kuat. Mari kita bedah sejarah di balik tradisi ikonik Lebaran yang masih kita jalani hingga saat ini.
1. Ketupat: Filosofi “Mengaku Salah” dari Era Sunan Kalijaga
Banyak yang mengira ketupat hanya pelengkap opor ayam, namun maknanya jauh lebih dalam. Tradisi ini diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga pada abad ke-15 saat menyebarkan Islam di Jawa.
- Filosofi: Nama “Ketupat” berasal dari istilah bahasa Jawa Kupat yang berarti Ngaku Lepat (mengaku kesalahan).
- Simbolisme: Anyaman janur yang rumit melambangkan kesalahan manusia, sementara isinya yang putih bersih melambangkan kesucian hati setelah berpuasa. Itulah mengapa ketupat tetap menjadi “bintang utama” setiap Lebaran: ia adalah pengingat visual untuk saling memaafkan.
2. Mudik: Dari Tradisi Petani Majapahit ke Fenomena Urban
Tahukah Anda bahwa istilah “Mudik” baru populer pada tahun 1970-an? Namun, akarnya sudah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit.
- Dahulu: Para perantau pulang ke kampung halaman untuk membersihkan makam leluhur dan berdoa demi keselamatan ladang mereka.
- Sekarang: Istilah “Mudik” (singkatan dari mulih dilik atau pulang sebentar) meledak saat Jakarta menjadi pusat urbanisasi besar-besaran. Meskipun harus berjibaku dengan kemacetan, nilai “pulang ke akar” ini tetap tidak tergantikan oleh video call sekalipun.
3. Halal bi Halal: Diplomasi Politik yang Menjadi Budaya
Ini adalah tradisi yang hanya ada di Indonesia. Istilah ini lahir dari sebuah ketegangan politik pada tahun 1948.
- Sejarah: Saat itu, Indonesia sedang dilanda disintegrasi pasca-kemerdekaan. Presiden Soekarno meminta saran kepada KH Abdul Wahab Chasbullah untuk menyatukan para elit politik.
- Solusi: Kiai Wahab mengusulkan silaturahmi dengan nama “Halal bi Halal” (saling menghalalkan atau saling memaafkan). Strategi ini berhasil meredakan konflik dan sejak itu menjadi tradisi nasional untuk mempererat tali persaudaraan di semua lapisan masyarakat.
4. THR: Bermula dari Tunjangan untuk PNS di Tahun 1951
Tunjangan Hari Raya (THR) mungkin adalah tradisi yang paling dinanti secara ekonomi.
- Awal Mula: THR pertama kali dicetuskan oleh Kabinet Soekiman Wirjosandjojo pada tahun 1951. Awalnya, ini hanya diberikan kepada Pegawai Negeri Sipil (PNS) untuk meningkatkan kesejahteraan mereka.
- Perkembangan: Setelah gelombang protes dari buruh swasta pada tahun 1950-an, akhirnya hak THR ini diperluas ke seluruh pekerja. Kini, THR menjadi penggerak roda ekonomi nasional setiap menjelang Idul Fitri. []

