Info Massa – Aktris berbakat Acha Septriasa mendadak jadi buah bibir di platform media sosial X (dahulu Twitter). Bukan karena film terbarunya, melainkan karena pernyataan kritisnya terhadap program unggulan pemerintah, Makan Bergizi Gratis (MBG).
Cuitan dan komentar Acha yang dianggap “kurang napak tanah” oleh sebagian orang memicu gelombang kritik pedas dari netizen, hingga namanya nangkring di jajaran trending topic selama beberapa jam terakhir.
Awal Mula Kontroversi
Kehebohan ini bermula saat Acha mengunggah pendapatnya mengenai efisiensi anggaran negara. Dalam pernyataannya, aktris yang kini menetap di Australia tersebut mempertanyakan apakah distribusi makanan gratis secara masif adalah solusi jangka panjang untuk stunting dan gizi buruk di Indonesia.
“Apakah tidak lebih baik anggarannya dialokasikan untuk penguatan ketahanan pangan di tingkat keluarga atau edukasi gizi yang lebih fundamental? Logistik untuk membagikan jutaan porsi setiap hari itu sangat kompleks dan rentan kebocoran anggaran,” tulis salah satu poin keberatannya yang beredar di tangkapan layar.
Netizen X: “Main Film Saja, Jangan Urus Dapur Rakyat”
Tak butuh waktu lama, warga X yang dikenal vokal langsung bereaksi. Ribuan tweet balasan (quote tweets) membanjiri lini masa. Banyak netizen yang menilai Acha Septriasa tidak memahami realitas di lapangan, terutama bagi keluarga prasejahtera yang benar-benar terbantu dengan adanya makan siang gratis bagi anak sekolah.
Berikut adalah beberapa poin “rujakan” netizen yang paling banyak mendapat engagement:
- Sentimen “Privilege”: Netizen menuding Acha berkomentar dari sudut pandang orang yang hidup nyaman di luar negeri. “Enak ngomong gitu dari Sydney, di sini banyak anak yang sekolah cuma bawa nasi garem,” tulis salah satu akun populer.
- Masalah Stunting: Beberapa pihak menilai kritik Acha mengabaikan urgensi darurat gizi yang butuh tindakan cepat (intervensi langsung) ketimbang sekadar edukasi.
- Logika Anggaran: Sebagian netizen balik menyerang dengan mengatakan bahwa “kebocoran anggaran” bisa terjadi di mana saja, namun bukan berarti program yang menyentuh rakyat kecil harus dihentikan.
Belaan dari Sebagian Pihak
Meski “dirujak” habis-habisan, tidak sedikit pula yang membela Acha. Kelompok ini menilai bahwa kritik Acha adalah hal yang wajar dalam sebuah demokrasi. Mereka menganggap poin Acha soal keberlanjutan (sustainability) dan risiko korupsi logistik adalah kekhawatiran yang valid dan harus dijawab oleh pemerintah dengan transparansi. []

