Info Massa — Di tengah hantaman krisis listrik kronis yang kerap melumpuhkan aktivitas warga Afghanistan, sebuah gerakan kemandirian dan solidaritas secara alami bertumbuh dari rumah ke rumah, dari toko ke toko, hingga ke petak-petak sawah di pinggiran kota.
Tak lagi sekadar pasrah menunggu jaringan listrik negara yang kerap padam, masyarakat Afghanistan kini saling belajar, berbagi pengetahuan, dan beralih ke tenaga surya demi menjaga kehidupan tetap menyala.
Bagi warga Kabul seperti Nusratullah Mohammad Khail, keputusan memasang panel surya bukan lagi soal gaya hidup hijau, melainkan bentuk pertahanan bersama keluarga dari dinginnya malam.
“Di musim dingin, pemadaman listrik sangat sering terjadi, dan selama musim panas pasokan listrik tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Itulah mengapa kami memasang sistem tenaga surya di rumah,” ungkap Nusratullah.
Listrik yang andal kini tak lagi menjadi barang mewah yang bergantung pada pihak lain. Warga saling merekomendasikan penggunaan baterai berkualitas agar sistem bisa bertahan bertahun-tahun, menciptakan rasa aman bersama di tingkat komunitas.
Menariknya, transisi menuju energi bersih ini diiringi dengan meningkatnya pemahaman teknis di tingkat akar rumput. Jika dahulu warga sangat bergantung pada teknisi luar, kini transferable knowledge atau transfer pengetahuan antarwarga terjadi begitu cepat.
Qari Gul Alam Samim, seorang pedagang peralatan tenaga surya di Kabul, menyaksikan langsung bagaimana masyarakat kini semakin berdaya secara mandiri.
“Dulu, pelanggan biasanya membutuhkan teknisi untuk mengerjakan pemasangan panel surya,”ujar Qari Gul. “Kini, banyak orang sudah memahami cara kerja peralatan tersebut dan dapat menyelesaikan sebagian besar pemasangan sendiri setelah membelinya.”
Fenomena warga yang saling mengajari cara pasang panel 600 watt hingga 700 watt—kapasitas paling populer untuk kebutuhan rumah tangga—menjadi bukti kuatnya semangat kebersamaan dalam menghadapi krisis.
Semangat bertahan hidup ini juga menjalar hingga ke wilayah pedesaan. Bagi para petani yang selama ini tercekik biaya operasional diesel, tenaga surya hadir sebagai penolong dan penyambung napas ketahanan pangan warga.
Ahmad, seorang petani di distrik pedesaan luar Kabul, menceritakan bagaimana pompa air bertenaga surya telah mengubah hidupnya dan pertanian sekitar.
“Sebelumnya, saya bergantung pada pompa diesel atau pasokan listrik yang tidak menentu. Cara itu mahal dan sering tidak bisa diandalkan,” kata Ahmad. “Setelah memasang sistem pompa kecil bertenaga surya, saya bisa mengairi ladang secara konsisten sepanjang hari.”
Pedagang lain, Haji Qari, menyebutkan bahwa ratusan kontainer produk tenaga surya—yang sebagian besar didatangkan dari China—tiba di Afghanistan setiap musim puncak antara Maret hingga Juli.
Kebutuhan akan energi tak lagi membedakan latar belakang. Dari pemilik rumah yang butuh daya cadangan, pemilik toko yang ingin terus beroperasi, pabrik yang menjaga produksi, hingga petani di pelosok—semuanya bergerak dalam satu gelombang yang sama: kemandirian energi berbasis gotong royong.
Di tanah yang dilanda berbagai keterbatasan, panel-panel surya yang berkilauan di atas atap rumah dan ladang Afghanistan kini bukan sekadar penyerap sinar matahari. Mereka adalah simbol solidaritas, harapan, dan tekad warga untuk tak biarkan masa depan mereka tenggelam dalam kegelapan. []