Feature
Beranda / Feature / Periuk dan Banjir yang Tak Pernah Usai, Puluhan Tahun Hidup Berdampingan dengan Genangan

Periuk dan Banjir yang Tak Pernah Usai, Puluhan Tahun Hidup Berdampingan dengan Genangan

Banjir merendam kawasan pemukiman warga di Kecamatan Priuk, Kota Tangerang, Minggu (8/3). (Foto: Info Massa/Istimewa).

Info Massa – Hujan yang turun deras sejak malam hari membuat sebagian warga Kecamatan Periuk, Kota Tangerang kembali diliputi kecemasan. Bagi mereka, hujan lebat sering kali menjadi pertanda datangnya banjir yang hampir setiap tahun merendam permukiman.

Kecemasan itu kembali menjadi kenyataan pada Minggu (8/3/2026). Air perlahan naik dari saluran drainase dan jalan lingkungan, lalu masuk ke rumah-rumah warga di sejumlah kawasan permukiman.

Beberapa jam kemudian, genangan air sudah mencapai lutut orang dewasa. Di beberapa lokasi, bahkan lebih tinggi lagi.

Data terbaru dari Kecamatan Periuk yang diperbarui pukul 16.00 WIB mencatat sedikitnya 3.643 kepala keluarga atau sekitar 10.785 jiwa terdampak banjir. Dari jumlah tersebut, sekitar 9.498 warga terpaksa mengungsi ke berbagai lokasi yang dianggap lebih aman.

Titik pengungsian tersebar di sejumlah fasilitas umum seperti Aula Kantor Kecamatan Periuk, Gedung MUI Kecamatan, Masjid Al-Jihad, GOR dan SDN Total Persada Raya, Masjid Al-Mujahidin, serta beberapa posko darurat yang dibangun warga di lingkungan tempat tinggal mereka.

Buronan Kasus Suap PTSL Rp960jt Jimmy Lie Dibekuk Polres Metro Tangerang Kota

Namun bagi sebagian besar warga Periuk, banjir bukan lagi peristiwa yang mengejutkan. Fenomena ini sudah terlalu sering terjadi.

Setiap musim hujan datang, mereka selalu bersiap menghadapi kemungkinan yang sama: rumah kembali terendam air.

Ketika Air Mulai Naik

Salah seorang warga yang berinisial A (47), warga Perumahan Periuk Damai, mengatakan air mulai masuk ke permukiman sejak hujan deras mengguyur kawasan tersebut pada malam hari.

Awalnya genangan hanya terlihat di jalan lingkungan. Namun dalam waktu beberapa jam, air terus naik hingga masuk ke dalam rumah warga.

Staf KKP Ardi Januar Sebut Ikan Jadi Kunci Ketahanan Pangan

“Kalau hujan deras beberapa jam saja biasanya air sudah mulai naik. Tahun ini malah lebih parah, air bisa sampai dada orang dewasa,” ujarnya saat ditemui dilokasi, Minggu (8/11).

Ia mengaku sudah terbiasa menghadapi situasi tersebut. Namun setiap kali banjir datang, kerugian yang dialami warga tetap tidak sedikit.

Barang-barang rumah tangga rusak, aktivitas terhenti, dan sebagian warga harus meninggalkan rumah untuk mengungsi.

“Kami sebenarnya sudah capek kalau setiap tahun harus mengungsi. Barang-barang rusak, pekerjaan juga terganggu. Harapannya ada solusi permanen supaya banjir ini benar-benar selesai,” katanya.

Keluhan yang sama juga disampaikan salah seorang warga dengan inisial S (35), warga Villa Mutiara Pluit. Rumahnya kembali terendam banjir dengan ketinggian air lebih dari satu meter. Menurutnya, banjir datang dengan cepat.

Kali Cirarab Meluap, 30 Hektare Sawah dan Permukiman di Sukadiri Terendam

“Air masuk sejak malam hari dan terus naik sampai pagi. Banyak warga akhirnya memilih mengungsi karena takut air semakin tinggi,” ujarnya.

Bagi warga seperti yang dialaminya, banjir tidak hanya menimbulkan kerugian material, tetapi juga rasa lelah karena harus menghadapi persoalan yang sama hampir setiap tahun.

Kawasan yang Selalu Terdampak

Beberapa kawasan di Kecamatan Periuk hampir selalu menjadi langganan banjir setiap musim hujan, diantaranya Perumahan Periuk Damai, Villa Mutiara Pluit, Total Persada Raya, Garden City, Purati dan Alamanda.

Di beberapa titik, ketinggian air bahkan dapat mencapai dua hingga tiga meter.

Kondisi tersebut membuat sebagian warga tidak memiliki pilihan selain mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Selain merendam rumah warga, banjir juga mengganggu aktivitas masyarakat karena sejumlah akses jalan ikut tergenang.

Beberapa kendaraan tidak dapat melintas, sementara aktivitas ekonomi warga pun ikut terhenti.

Persoalan Lama yang Berulang

Banjir di wilayah Periuk bukanlah persoalan baru. Warga menyebut genangan air telah menjadi bagian dari kehidupan mereka selama bertahun-tahun.

Setiap musim hujan tiba, kekhawatiran akan datangnya banjir kembali muncul.

Secara geografis, sebagian wilayah Kecamatan Periuk berada di dataran rendah yang membuat air mudah menggenang ketika curah hujan tinggi.

Ketika hujan turun dalam waktu lama, air dari kawasan sekitar mengalir menuju wilayah ini.

Jika kapasitas saluran air tidak mampu menampung debit air yang meningkat, genangan pun sulit dihindari.

Masalah lain adalah perkembangan kawasan permukiman yang sangat pesat dalam dua dekade terakhir.

Banyak lahan terbuka yang sebelumnya menjadi area resapan air berubah menjadi perumahan, ruko, maupun kawasan usaha.

Perubahan tata guna lahan ini membuat air hujan tidak lagi terserap secara alami ke dalam tanah. Sebaliknya, air langsung mengalir menuju saluran drainase. Ketika volume air yang masuk terlalu besar, sistem drainase menjadi kewalahan.

Drainase yang Tidak Lagi Mampu Menampung

Selain persoalan tata ruang, kondisi drainase juga menjadi faktor penting yang memengaruhi banjir di kawasan ini. Sejumlah saluran air mengalami pendangkalan akibat sedimentasi lumpur dan sampah. Jika tidak dilakukan pengerukan secara rutin, kapasitas saluran air akan semakin berkurang. Akibatnya, aliran air menjadi lambat dan mudah meluap ketika hujan deras turun dalam waktu lama.

Di beberapa lokasi, warga bahkan menyebut genangan air bisa terjadi hanya beberapa jam setelah hujan mulai turun. Hal ini menunjukkan bahwa kapasitas drainase di sejumlah titik sudah tidak lagi mampu menampung debit air yang datang.

Ketika Kota Terus Bertumbuh

Pertumbuhan kota membawa berbagai perubahan pada struktur kawasan. Di satu sisi, pembangunan perumahan dan kawasan ekonomi membuka peluang baru bagi masyarakat. Namun di sisi lain, perubahan tersebut juga menimbulkan konsekuensi terhadap lingkungan.

Lahan terbuka yang berkurang, meningkatnya permukaan beton dan aspal, serta bertambahnya kawasan permukiman membuat kemampuan tanah untuk menyerap air semakin menurun. Akibatnya, air hujan yang seharusnya meresap ke tanah justru mengalir ke permukaan dan memperbesar potensi banjir.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di Periuk, tetapi juga di banyak kota yang berkembang pesat.

Penanganan yang Masih Bersifat Sementara

Setiap kali banjir terjadi, berbagai upaya penanganan darurat biasanya dilakukan.

Pemerintah bersama aparat terkait mengevakuasi warga, mendirikan posko pengungsian, serta menyalurkan bantuan logistik bagi masyarakat terdampak.

Langkah tersebut memang penting untuk membantu warga yang sedang menghadapi bencana. Namun bagi sebagian masyarakat, penanganan tersebut masih dianggap sebagai solusi sementara.

Yang mereka harapkan adalah upaya yang lebih menyeluruh untuk mengatasi persoalan banjir secara permanen.

Beberapa langkah yang sering disebut dalam penanganan banjir antara lain normalisasi saluran air, pembangunan kolam retensi, peningkatan kapasitas drainase, serta penguatan sistem pengendalian banjir di kawasan rawan genangan.

Harapan Warga

Bagi warga Periuk, banjir bukan sekadar peristiwa alam yang datang sesekali. Banjir telah menjadi bagian dari kehidupan yang terus berulang dari tahun ke tahun. Setiap musim hujan tiba, kekhawatiran yang sama kembali muncul.

Sebagian warga harus bersiap menyelamatkan barang-barang mereka. Sebagian lainnya bersiap mengungsi jika air kembali naik.

Di tengah kondisi tersebut, harapan warga sebenarnya sederhana. Mereka ingin dapat tinggal dengan tenang tanpa harus khawatir rumah mereka kembali terendam air setiap kali hujan deras turun.

Bagi masyarakat Periuk, yang paling mereka tunggu bukan sekadar bantuan saat banjir datang, melainkan solusi jangka panjang yang benar-benar mampu mengakhiri banjir yang telah mereka hadapi selama puluhan tahun.[]

× Advertisement
× Advertisement