Info Massa – Kejutan besar mewarnai bursa transfer sepak bola Indonesia setelah Shin Tae-yong (STY) resmi ditunjuk sebagai juru taktik baru Persija Jakarta untuk tiga tahun ke depan. Di balik target besar membawa Macan Kemayoran kembali ke takhta juara, ternyata ada alasan emosional kuat yang membuat pelatih asal Korea Selatan ini mantap memilih Jakarta.
Bagi STY, melatih Persija bukan sekadar mencari tantangan baru di kompetisi domestik, melainkan sebuah keputusan yang lahir dari rasa rindu dan kedekatan personalnya dengan ibu kota.
Setelah menghabiskan waktu selama lima tahun memimpin Tim Nasional Indonesia, STY mengaku sudah terlanjur memiliki ikatan batin yang kuat dengan atmosfer sepak bola Jakarta. Kota ini bukan lagi tempat yang asing baginya.
“Sebelumnya memang melatih timnas Indonesia selama 5 tahun, jadi sangat mengenal dengan stadion di Jakarta, GBK dan JIS. Jadi saya paling kenal mungkin dengan tim Persija. Dan waktu itu saya merasakan juga tim Persija Jakarta itu tim terbaik di Indonesia,” ungkap STY dalam jumpa pers resminya di Jakarta International Stadium (JIS), Senin.
Faktor kenyamanan dan pemahamannya yang mendalam terhadap lanskap sepak bola Jakarta menjadi stimulus utama mengapa pelatih berusia 57 tahun ini menolak tawaran lain dan memilih berlabuh ke markas Macan Kemayoran.
Selain faktor kota, keberadaan para pemain pilar Persija yang merupakan “alumni” didikannya di Timnas Indonesia menjadi magnet tersendiri bagi STY. Di dalam skuad Persija saat ini, ia akan kembali bekerja sama dengan nama-nama familiar seperti Rizky Ridho (Kapten Tim), Shayne Pattynama, Dony Tri Pamungkas, Rayhan Hannan
Faktor reuni inilah yang membuat manajemen Persija sangat optimistis proses adaptasi STY tidak akan memakan waktu lama. Sinergi yang sudah terbangun di level internasional diharapkan bisa langsung diterapkan di level klub.
“Kita diskusi dengan Coach Shin Tae-yong bahwa tentunya dengan skuad yang ada ini, sebagian besar sudah ada di bawahnya Coach Shin di era under ya. Jadi saya yakin sekali itu nanti prosesnya akan lebih cepat,” ujar Presiden Persija, Mohammad Prapanca.
Persija tidak ingin menjadikan STY sebagai pelatih yang hanya mengejar instanisasi gelar. Kontrak berdurasi tiga tahun yang disodorkan manajemen menunjukkan adanya misi yang lebih besar membangun fondasi masa depan klub.
Prapanca menegaskan bahwa pelatih yang pernah menumbangkan Jerman di Piala Dunia 2018 itu akan dilibatkan penuh dalam pembenahan infrastruktur klub serta akselerasi pembinaan pemain muda di akademi Persija.
STY sendiri mengaku tertantang dengan proyek ini. Ia tidak hanya ingin membawa Persija finis di posisi terbaik, tetapi juga ingin meninggalkan warisan berharga bagi perkembangan sepak bola Indonesia secara keseluruhan melalui sistem yang lebih baik di tubuh Persija. []