Info Massa — Pemerintah Prancis resmi menghentikan sementara penggunaan granat kejut (stun grenade) oleh kepolisian dalam mengamankan aksi unjuk rasa pelajar di seluruh negeri. Keputusan ini diambil setelah tangan seorang remaja berusia 15 tahun putus akibat ledakan amunisi tersebut di kota Lens, Prancis utara.
Menteri Dalam Negeri Laurent Nuñez menyatakan penangguhan dilakukan hingga fakta insiden di dekat SMA Auguste Béhal tersebut menjadi jelas. Korban dilaporkan kehilangan tangannya setelah terkena granat antipengepungan (anti-encirclement grenade).
Otoritas setempat mengklaim remaja itu mengambil granat yang jatuh sebelum meledak, sementara sejumlah siswa menyebut granat ditembakkan dan mengenai korban secara langsung saat bentrokan terjadi.
Gelombang protes pelajar yang menuntut perbaikan fasilitas dan kondisi sekolah kini makin meluas hingga melibatkan mahasiswa, orang tua, dan serikat buruh. Kondisi di lapangan kian memanas:
Lebih dari 500 sekolah mengalami gangguan operasional. Menteri Pendidikan Édouard Geffray mengungkapkan 24 sekolah rusak parah atau dibakar, memaksa 30.000 siswa meliburkan kegiatan belajar hingga beberapa pekan ke depan.
Kemendagri Prancis mencatat 488 orang ditangkap dan 43 petugas terluka dalam unjuk rasa yang melibatkan ratusan ribu massa. Pengawas kepolisian (IGPN) telah membuka 18 penyelidikan internal terkait dugaan penggunaan kekuatan berlebihan (disproportionate force).
Selain kasus di Lens, seorang remaja 14 tahun mengalami patah tulang rahang akibat terkena selongsong gas air mata di Saint-Ouen-l’Aumône, serta penyelidikan dugaan percobaan pembunuhan oleh oknum polisi terhadap pelajar 17 tahun di Belfort.
Kebijakan pembekuan senjata ini memicu pro dan kontra. Serikat polisi UNSA mengkritik keputusan Nuñez dan menilai langkah tersebut diambil atas dasar emosi semata, yang berisiko meningkatkan bentrokan jarak dekat dengan demonstran. Sebaliknya, kubu oposisi menuding pemerintah lambat merespons kekerasan aparat terhadap pelajar.
Perdana Menteri Sébastien Lecornu dijadwalkan menyampaikan pidato resmi untuk meredam krisis nasional ini, setelah Presiden Emmanuel Macron menggelar rapat darurat bersama para menteri senior menyusul aksi unjuk rasa yang melumpuhkan hampir seperempat SMA di seluruh Prancis. []