Info Massa – Pemerintah China kembali menegaskan posisinya dalam menyikapi konflik yang kian memanas antara Rusia dan Ukraina. Melalui sidang darurat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Beijing menyerukan penghentian kekerasan seraya menyoroti peran aktif mereka dalam mengupayakan penyelesaian politik atas krisis tersebut.
Kuasa Usaha (Charge d’Affaires) Misi Tetap China untuk PBB, Sun Lei, mengungkapkan keprihatinan mendalam atas eskalasi pertempuran yang belakangan ini memicu kehancuran infrastruktur dan jatuhnya banyak korban dari kedua belah pihak. Menurutnya, prioritas mendesak saat ini adalah mewujudkan gencatan senjata.
“China mendesak agar semua serangan terhadap warga sipil segera dihentikan, menyerukan kepada pihak-pihak terkait untuk tetap tenang dan menahan diri, mematuhi hukum humaniter internasional secara ketat, serta melindungi warga sipil dan infrastruktur sipil,” tegas Sun dalam persidangan di New York, Senin (27/7).
Menjawab dinamika konflik yang makin kompleks, China menekankan bahwa pihaknya tidak tinggal diam. Sun menjelaskan bahwa posisi Beijing tetap konsisten mendukung penghentian pertumpahan darah secara permanen melalui jalur diplomasi.
Sebagai bentuk kontribusi nyata, China mengklaim terus menjalin komunikasi intensif dengan pihak-pihak yang bertikai, termasuk menggelar diplomasi ulang-alik (shuttle diplomacy) guna menjembatani perbedaan.
“China terus menjalin komunikasi yang erat dengan Rusia, Ukraina, dan pihak-pihak terkait lainnya, telah secara aktif melakukan diplomasi ulang-alik, serta melakukan berbagai upaya ekstensif dengan caranya sendiri untuk mendorong perundingan damai,” ujar Sun.
Ia menambahkan bahwa China siap bekerja sama dengan komunitas internasional untuk terus memainkan peran konstruktif menuju penyelesaian politik yang menyeluruh.
Dalam pemaparannya, perwakilan China tersebut mengingatkan bahwa dialog dan negosiasi merupakan satu-satunya jalan keluar mendasar. Mengingat posisi geografis Rusia, Ukraina, dan negara-negara Eropa sebagai tetangga yang tidak bisa dipisahkan, menciptakan keamanan bersama adalah pilihan yang paling realistis.
Beijing percaya bahwa selama pintu perundingan tetap terbuka, peluang untuk mencapai perdamaian yang komprehensif, langgeng, dan mengikat masih sangat memungkinkan.
“Selama perundingan dapat dimulai dan terus berlanjut, masih ada harapan untuk perdamaian,” pungkas Sun. []