Tangerang — Suasana duka di rumah keluarga Alm. Lie Nari tampak berbeda dari upacara kematian pada umumnya. Alih-alih didominasi pakaian hitam atau putih, anggota keluarga mengenakan busana berwarna merah. Di atas peti jenazah terbentang kain lima warna, sementara seorang anak kecil dari generasi kelima keluarga duduk di atas peti sebagai bagian dari prosesi adat. Rangkaian ritual tersebut merupakan bagian dari tradisi Ngohtay, sebuah upacara kematian yang sangat langka dalam budaya masyarakat Cina Benteng.
Tradisi Ngohtay hanya dapat dilaksanakan apabila seseorang meninggal dunia setelah memiliki lima generasi keturunan yang masih hidup dalam satu garis keluarga, yaitu anak, cucu, cicit, dan canggah. Kondisi tersebut dipandang sebagai pencapaian hidup yang istimewa karena melambangkan umur panjang, keberkahan, serta keberhasilan menjaga kesinambungan garis keturunan.
Bagi masyarakat Cina Benteng, seseorang yang telah mencapai lima generasi keturunan dianggap memperoleh kehidupan yang sempurna atau fu shou, yaitu kehidupan yang dianugerahi usia panjang, keluarga yang harmonis, dan keturunan yang terus berlanjut. Karena itu, prosesi kematian tidak hanya menjadi momen berkabung, tetapi juga menjadi ungkapan rasa syukur atas perjalanan hidup mendiang.
Salah satu simbol utama dalam upacara Ngohtay adalah penggunaan kain lima warna yang dibentangkan di atas peti jenazah. Kain tersebut melambangkan keberadaan lima generasi dalam satu garis keturunan sekaligus menjadi simbol keberlanjutan keluarga dari leluhur kepada generasi penerus.
Prosesi semakin sakral ketika canggah, atau keturunan generasi kelima, duduk di atas peti jenazah. Kehadiran canggah menjadi penanda bahwa garis keturunan mendiang telah berlanjut hingga generasi kelima. Dalam pandangan masyarakat Cina Benteng, kesempatan menyaksikan kelahiran canggah merupakan anugerah yang sangat langka sekaligus kebanggaan bagi seluruh keluarga.
Rangkaian penghormatan berikutnya dilakukan dengan mengelilingi peti jenazah sebanyak tiga putaran, kemudian diulangi satu kali lagi sehingga keseluruhannya menjadi enam putaran. Prosesi tersebut dimaknai sebagai penghormatan terakhir kepada mendiang sekaligus simbol bakti (xiao) kepada orang tua dan leluhur. Ritual itu juga mencerminkan ikatan kekeluargaan yang diyakini tetap terjalin meskipun terjadi perpisahan secara fisik.
Keunikan lain terlihat pada penggunaan pakaian merah oleh keluarga yang ditinggalkan. Berbeda dengan tradisi berkabung yang identik dengan warna putih atau hitam, warna merah dalam Ngohtay melambangkan kebahagiaan, keberuntungan, dan keberkahan. Warna tersebut menjadi simbol bahwa kehidupan mendiang patut disyukuri karena berhasil mencapai usia lanjut serta meninggalkan keturunan hingga lima generasi.
Pelaksanaan tradisi Ngohtay tergolong sangat jarang karena syaratnya tidak mudah dipenuhi. Tidak semua keluarga memiliki lima generasi keturunan yang hidup secara bersamaan. Oleh sebab itu, upacara ini dianggap sebagai bentuk penghormatan tertinggi yang dapat diberikan kepada seseorang pada akhir kehidupannya.
Salah satu pelaksanaan tradisi tersebut berlangsung pada upacara kematian Alm. Lie Nari, yang wafat pada usia 98 tahun. Karena telah memiliki keturunan hingga generasi kelima, keluarga menyelenggarakan prosesi Ngohtay sesuai adat masyarakat Cina Benteng. Kain lima warna, kehadiran canggah di atas peti, pakaian merah yang dikenakan keluarga, serta prosesi enam putaran mengelilingi peti menjadi bagian dari penghormatan terakhir sekaligus ungkapan syukur atas kehidupan mendiang.
Di tengah arus modernisasi, tradisi Ngohtay masih dipertahankan oleh sebagian masyarakat Cina Benteng sebagai warisan budaya yang sarat makna. Lebih dari sekadar ritual kematian, Ngohtay merefleksikan penghormatan kepada leluhur, pentingnya kesinambungan keluarga, serta nilai bakti yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.[]