Info Massa – Media Kanada memproyeksikan partai separatis Parti Québécois (PQ) meraih kemenangan minoritas dalam pemilihan umum provinsi Quebec pada Senin. Kemenangan ini mengantarkan sang pemandega, Paul St-Pierre Plamondon, menjadi premier Quebec yang baru.
Hasil pemilu ini mencatatkan sejarah bagi PQ yang kembali memegang kekuasaan untuk pertama kalinya sejak 2014. Kondisi tersebut memicu potensi gesekan dengan Perdana Menteri Kanada Mark Carney, terutama terkait isu imigrasi hingga keberadaan monarki.
PQ berjanji menggelar referendum kemerdekaan Quebec, mengikuti langkah serupa yang tengah berjalan di Alberta. Quebec sebelumnya pernah menggelar pemungutan suara serupa pada tahun 1980 dan 1995. Kendati demikian, hasil jajak pendapat terkini menunjukkan baru sekitar 30% warga Quebec yang mendukung langkah tersebut.
Plamondon menyatakan referendum baru akan digelar setelah masa jabatan Presiden AS Donald Trump berakhir, yang diperkirakan terjadi dalam dua tahun ke depan. Apabila janji ini ditepati, referendum ketiga bagi Quebec kemungkinan dijadwalkan pada 2029 atau 2030.
Selain isu kedaulatan, Plamondon menegaskan kesiapannya berselisih dengan pemerintah pusat di Ottawa. Ia berniat menekan Ottawa terkait kebijakan imigrasi dan menolak setiap kenaikan kuota dari pemerintah Carney.
Plamondon juga berkomitmen menyetop dana operasional untuk lembaga monarki di Quebec—seperti kantor Lieutenant-Governor yang mewakili Raja Charles III—dan mengalihkan anggaran tersebut ke sektor sosial, salah satunya untuk penanganan tunawisma.
“Kami akan melakukan apa yang harus dilakukan untuk mengeluarkan monarki dari Quebec, merepatriasi dana tersebut, dan menyalurkannya ke program-program sosial,” ujar Plamondon.
Rencana penghentian dukungan finansial ini diprediksi menghadapi kendala hukum serius mengingat peran sentral monarki dalam konstitusi Kanada.
Kemenangan PQ tidak lepas dari rasa jenuh publik terhadap pemerintah Coalition Avenir Québec (CAQ) yang telah berkuasa selama delapan tahun. Ketiadaan dorongan elektoral usai pergantian kepemimpinan dari François Legault ke Christine Fréchette membuat CAQ kehilangan dukungan signifikan.
Fréchette telah mengakui kekalahannya dan menyatakan kesiapan membantu proses transisi pemerintahan. “Memimpin Quebec adalah kehormatan terbesar dalam hidup saya,” tuturnya.
Dalam pemilu ini, Partai Liberal Quebec mengamankan kursi terbanyak kedua, disusul kenaikan perolehan kursi oleh Partai Konservatif Quebec.
Perdana Menteri Mark Carney menyampaikan ucapan selamat atas kemenangan Plamondon dan berkomitmen untuk menjalin kerja sama. Carney saat ini juga dihadapkan pada ancaman dampak tarif impor baru dari AS yang berpotensi merugi hingga C$2 miliar bagi perekonomian Quebec.
“Membangun Quebec yang lebih kuat adalah inti dari misi kami untuk membangun Kanada yang lebih kuat. Saya berharap dapat bekerja sama dengan Anda untuk mendukung bisnis dan pekerja Quebec yang terdampak tarif, menciptakan lapangan kerja baru, menanggulangi masalah tunawisma, serta memperbanyak pembangunan hunian di seluruh Quebec,” tulis Carney melalui akun media sosialnya. []