Internasional
Beranda / Internasional / Sayap Kanan Ekstrem Tangan Besi Unggul Tipis Atas Kiri Progresif di Pemilu Kolombia

Sayap Kanan Ekstrem Tangan Besi Unggul Tipis Atas Kiri Progresif di Pemilu Kolombia

Info Massa – Pertarungan ideologi yang sengit antara kutub kanan dan kiri kembali memuncak dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) putaran kedua Kolombia yang digelar Minggu (21/6/2026) waktu setempat.

Berdasarkan hasil hitung sementara, kandidat dari sayap kanan ekstrem yang mengusung pendekatan “tangan besi”, Abelardo de la Espriella, sukses memimpin perolehan suara dan diprediksi kuat akan menjadi Presiden Kolombia berikutnya untuk periode 2026-2030.

Berdasarkan data yang dirilis oleh Registraduría Nasional Catatan Sipil Kolombia, hingga Senin (22/6/2026), sebanyak 98,22 persen suara telah dihitung. Hasilnya menunjukkan polarisasi politik yang sangat tajam di negara Amerika Latin tersebut, Abelardo de la Espriella (Sayap Kanan) 49,77 persen suara. Ivan Cepeda (Sayap Kiri) 48,59 persen suara.

Selisih tipis yang tidak sampai dua persen ini mencerminkan betapa terbelahnya suara rakyat Kolombia dalam menentukan arah masa depan ideologi negara mereka.

Kemenangan de la Espriella, seorang pengacara berusia 47 tahun, menandai kebangkitan masif gerakan kanan ekstrem di Kolombia yang dimotori oleh faksi Defenders of the Homeland. Sebagai tokoh politik nontradisional yang kerap mendobrak pakem konvensional, de la Espriella memikat pemilih melalui janji radikalnya, pendekatan tangan besi (iron fist) terhadap keamanan nasional dan pemotongan drastis pada pengeluaran publik.

FSPMI Mogok Kerja Tuntut Kenaikan Upah PT Molek Ayus Tangerang

Demi memperkuat fondasi ekonominya, ia menggandeng Jose Manuel Restrepo, mantan menteri keuangan dan kredit publik Kolombia, sebagai wakil presidennya.

Di sisi lain, Ivan Cepeda, yang menjadi representasi kekuatan sayap kiri, harus berjuang keras menahan gempuran narasi perubahan radikal yang dibawa oleh rival kanannya tersebut. Pertarungan kedua tokoh ini menjadi puncak dari ketegangan politik yang gagal diselesaikan pada putaran pertama, di mana tidak ada satu pun kandidat yang mampu menembus ambang batas 50 persen suara untuk menang langsung.

Pilpres putaran kedua ini melibatkan mobilisasi massa yang masif, dengan lebih dari 41,4 juta pemilih terdaftar yang menyalurkan hak suaranya di sekitar 13.000 tempat pemungutan suara (TPS) di seluruh penjuru negeri. TPS dibuka sejak Minggu pagi pukul 08.00 hingga 16.00 waktu setempat (atau Senin pukul 04.00 WIB).

Sesuai dengan sistem elektoral Kolombia, putaran kedua ini menjadi penentu mutlak, di mana kandidat dengan raihan suara terbanyak otomatis keluar sebagai pemenang tanpa harus menyentuh angka 50 persen.

Dengan keunggulan yang hampir mustahil dikejar di sisa surat suara yang belum dihitung, de la Espriella bersiap membawa Kolombia berbelok tajam ke arah kanan. Presiden baru Kolombia dijadwalkan akan resmi dilantik dan mulai menjabat pada 7 Agustus 2026 mendatang. []

Fatimah Az Zahra, Aktivis Perempuan FK-UI Kritis-Kontroversial

× Advertisement
× Advertisement