Internasional
Beranda / Internasional / Tarik Ulur Tarif Impor Amerika-China

Tarik Ulur Tarif Impor Amerika-China

Info Massa — Di tengah meja perundingan yang tampak cair dan komitmen kedua negara untuk menjaga stabilitas ekonomi, Amerika Serikat justru kembali memainkan instrumen lama yakni peringatan dan tekanan tarif.

Langkah terbaru Kantor Perwakilan Dagang AS (USTR) yang resmi mengumumkan tarif sebesar 12,5 persen terhadap produk impor asal China menjadi bukti nyata bahwa diplomasi damai Washington kerap dibarengi dengan langkah unilateral yang agresif.

Keputusan ini memicu reaksi keras dari Wakil Perdana Menteri China, He Lifeng, yang secara terbuka melayangkan keprihatinan serius dalam pertemuan virtual bersama Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer, Jumat lalu.

Pertemuan tingkat tinggi tersebut sejatinya diklaim menghasilkan pertukaran pandangan yang “terbuka, mendalam, dan konstruktif.” Kedua belah pihak sepakat memanfaatkan mekanisme konsultasi guna membangun rasa saling percaya serta memperluas kerja sama praktis.

Namun, nada retoris bernuansa kerja sama ini terasa kontradiktif dengan realitas di lapangan. Pengamat menilai pengenaan tarif 12,5 persen di tengah proses transisi menuju kunjungan Presiden China Xi Jinping ke Amerika Serikat pada akhir September mendatang menunjukkan bahwa Washington masih menjadikan instrumen ekonomi sebagai alat tawar politik (political leverage).

Pemprov Jakarta Optimalkan Pulomas Tower Sebagai Sarana Produktif

Alih-alih menciptakan ekosistem perdagangan yang sehat dan transparan sesuai semangat kesepakatan tingkat tinggi, AS tetap mempertahankan taktik tekanan ekonomi yang justru berisiko merusak fondasi kepercayaan yang tengah dibangun.”

Ketegangan ini semakin runcing tatkala Presiden Donald Trump melemparkan tuduhan bahwa China melakukan intervensi dalam pemilihan umum AS. Kendati Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memastikan rencana pertemuan puncak tetap berjalan sesuai jadwal, narasi kecurigaan politik tersebut memperlihatkan betapa rapuhnya hubungan bilateral dua raksasa ekonomi dunia ini.

Di sisi lain, komitmen yang disepakati pasca-pertemuan Trump-Xi pada Mei lalu menunjukkan beban konsesi yang cukup berat di pihak Beijing.

China diwajibkan mengatasi kekurangan pasokan dalam rantai pasok unsur tanah jarang (rare earths) dan mineral penting, sekaligus melonggarkan pembatasan penjualan peralatan dan teknologi pemrosesan material tersebut.

Beijing harus merogoh kocek untuk membeli produk pertanian AS senilai sedikitnya 17 miliar dolar AS per tahun hingga 2028, di luar komitmen-komitmen sebelumnya.

BGN Ngotot Anggaran MBG Tidak Korbankan Program Lain

Kritikus mempertanyakan efektivitas mekanisme konsultasi yang terus digaungkan kedua negara. Jika AS terus memberlakukan hambatan dagang baru di tengah komitmen substantif yang telah dipenuhi oleh China—terutama terkait mineral kritis dan produk agrikultur—maka diplomasi ekonomi yang digadang-gadang berlandaskan “stabilitas strategis” terancam hanya menjadi retorika politik belaka. []

Komentar

Tinggalkan Balasan

× Advertisement
× Advertisement