Info Massa – Kekuasaan politik panjang pemimpin populisme kanan Serbia, Aleksandar Vučić, akhirnya runtuh. Setelah bertahun-tahun mencengkeram pemerintahan dan membendung gelombang oposisi, Vučić secara mengejutkan mengakui kekalahan partainya, Serbian Progressive Party (SNS), dalam Pemilu Parlemen yang dipercepat pada Minggu malam.
Kekalahan dramatis rezim Vučić dari gerakan politik independen yang dipimpin mahasiswa (Student List) menandai titik balik penting di Eropa Timur. Namun di balik sorak-sorai publik di jalanan Belgrade dan Novi Sad, peristiwa ini menjadi cermin kelam betana runtuhnya kepercayaan publik akibat praktik korupsi sistemik dan keserakahan kekuasaan.
Kejatuhan Vučić tidak terjadi dalam ruang hampa. Kemenangan gerakan mahasiswa merupakan puncak dari kemarahan publik yang terakumulasi selama dua tahun terakhir pasca-tragedi ambruknya atap Stasiun Kereta Api Novi Sad yang menewaskan 16 orang.
Bagi masyarakat Serbia, bencana tersebut bukan sekadar kecelakaan infrastruktur biasa, melainkan simbol telanjang dari praktek-praktek korupsi sistemik melalui proyek-proyek publik yang dikerjakan ugal-ugalan tanpa pengawasan ketat akibat praktik nepotisme.
Kemudian kelalaian pemerintah dengan pengabaian terhadap standar keselamatan demi memangkas anggaran atau menguntungkan kroni-kroni politik. Ditambah dengan Inisial Impunitas, di mana keengganan pejabat terkait untuk bertanggung jawab secara hukum.
Janji-janji manis Vučić menjelang pemilu seperti penggalangan dana pensiun, kenaikan gaji sektor publik, hingga suntikan investasi kesehatan gagal menutupi rasa trauma dan kemarahan rakyat atas tragedi bernyawa manusia tersebut.
Sebelum pemilu digelar, Vučić yang telah menghabiskan dua masa jabatan sebagai presiden mencoba melakukan manuver politik dengan memimpin SNS demi merebut kembali kursi Prime Minister (Perdana Menteri), jabatan yang sempat ia tinggalkan pada 2017.
Namun, taktik “main gonta-ganti kursi” dan politik dinasti politik yang dipraktikkan populisme kanan ini mental di tangan para pemilih muda. Rekor partisipasi pemilih (voter turnout) yang mencapai lebih dari 65% menjadi bukti nyata penolakan publik terhadap akrobat politik sang penguasa veteran.
“Ini akan menjadi negara yang bebas dari tirani. Tidak ada kekuatan yang mampu mengalahkan rakyat yang telah memutuskan untuk mengambil alih takdirnya sendiri,” tegas Ilija Srdanović, calon anggota parlemen utama dari Student List.
Meski euforia kemenangan merebak, para pengamat menilai tantangan sesungguhnya bagi kelompok pemuda dan profesional independen (Student List) baru saja dimulai. Berbeda dengan parpol konvensional,gerakan ini diisi oleh akademisi, dokter, aktor, dan atlet yang belum berpengalaman dalam birokrasi pemerintahan.
Terdapat agenda krusial yang kini berada di pundak mereka meliputi pembersihan birokrasi (Purging), yakni memecat pejabat-pejabat korup yang terlibat penindasan terhadap pengunjuk rasa.
Selanjutnya depolitisasi BUMN untuk menghentikan praktik penunjukan loyalis partai untuk memimpin perusahaan-perusahaan negara. Lalu Pembersihan media publik demgan membebaskan lembaga penyiaran publik dari kontrol dan propaganda politik yang selama bertahun-tahun melanggengkan kekuasaan SNS.
Terakhir menyorot Kebijakan Luar Negeri yang Ambivalen, mengurai benang kusut posisi geopolitik Serbia yang selama ini menggantung di antara ambisi masuk Uni Eropa dan keengganan menjatuhkan sanksi pada Rusia.
Kemenangan gerakan mahasiswa ini membuktikan bahwa pembungkaman media dan dominasi partai penguasa tidak lagi mampu menahan amuk massa yang menuntut transparansi. Kini, publik menunggu apakah kelompok pemuda ini mampu benar-benar merobohkan sistem oligarki yang telah mengakar kuat atau justru terjebak dalam kompleksitas birokrasi negara. []