Info Massa – Kasus kebakaran pada motor listrik belakangan menjadi perhatian para penggunanya. Meski dirancang dengan sistem keamanan khusus, risiko kebakaran pada kendaraan berbasis baterai tetap dapat terjadi akibat berbagai faktor, mulai dari masalah kelistrikan hingga kesalahan teknis saat pemasangan komponen.
Hernest, pemilik bengkel spesialis baterai kendaraan listrik Bogor Battery Electric Motion (BEMo),mengungkapkan bahwa mayoritas insiden kebakaran pada motor listrik berawal dari praktik modifikasi atau peningkatan kapasitas (upgrade) komponen yang tidak sesuai standar teknis.
“Selama kendaraan listrik itu didukung dengan part yang tepat, hal yang menjadikan unit itu terbakar sebenarnya tidak akan terjadi,” kata Hernest.
Salah satu kesalahan paling sering terjadi saat melakukan upgrade baterai dan controller adalah mengabaikan kemampuan kabel fase (phase wire). Menurut Hernest, penyesuaian spesifikasi kabel sangat krusial agar arus listrik yang disalurkan dapat berjalan lancar tanpa memicu panas berlebih.
“Yang bisa menyebabkan kebakaran itu baterai upgrade, controller upgrade, tapi kabel fasenya itu tidak didukung dengan yang kuat. Ya minimal sudah harus disesuaikan, kabel fasenya harus dibikin jadi 800 atau 1.000 watt,” jelasnya.
Jika arus yang mengalir melampaui ambang batas kemampuan kabel, suhu kabel akan meningkat drastis (overheat). Kondisi ini dapat menyebabkan lapisan isolasi luar kabel meleleh hingga akhirnya menimbulkan korsleting listrik.
Selain ketidaksesuaian kapasitas watt, pengaplikasian jenis kabel yang salah peruntukan juga masih marak ditemukan di lapangan.
“Contohnya, kabel utama malah menggunakan kabel salon atau sound system. Itu kan enggak bisa, pasti terbakar. Nah, itu yang menyebabkan sering terbakarnya seperti itu,” tegas Hernest.
Selain persoalan kabel, proses perakitan dan penyambungan antarsel baterai menjadi titik kritis lainnya.Hernest mengingatkan bahwa menyambung sel baterai tidak boleh menggunakan alat solder biasa.
“Penyambungan atau welding itu bukan disolder, tapi di-las. Lasnya juga bukan las biasa, tapi las khusus untuk baterai kendaraan,” paparnya.
Penggunaan metode penyambungan yang tidak tepat berisiko menghasilkan ikatan antar-komponen yang rapuh. Akibatnya, hambatan arus menjadi tidak stabil dan memicu akumulasi panas berlebih hingga berpotensi menimbulkan arc (loncatan bunga api) di dalam wadah (casing) baterai.
Untuk menghindari risiko gangguan kelistrikan hingga potensi kebakaran, berikut langkah preventif yang perlu diperhatikan oleh para pemilik motor listrik:
Pastikan seluruh suku cadang pendukung, terutama sistem perkabelan, memiliki daya dan arus yang seimbang dengan kapasitas baterai serta controller.
Jangan pernah menyambung jalur utama kelistrikan kendaraan dengan kabel rakitan seperti kabel audio/peralatan rumah tangga.
Lakukan modifikasi, welding sel baterai, atau perbaikan kelistrikan di bengkel spesialis yang memiliki peralatan standar industri kendaraan listrik. []