Info Massa – Kebangkitan Como 1907 menjadi salah satu cerita menarik dalam perjalanan sepak bola Italia. Di balik perkembangan klub yang kini mampu bersaing di level tertinggi Eropa tersebut, terdapat peran penting pengusaha asal Indonesia sekaligus Presiden Como, Mirwan Suwarso.
Di bawah kepemimpinan Suwarso, Como berhasil melewati perjalanan panjang dari Serie D hingga menembus Serie A Liga Italia. Bahkan, dalam dua musim terakhir, klub berjuluk I Lariani itu mampu menunjukkan perkembangan signifikan dengan bersaing di papan atas kompetisi domestik.
Pencapaian tersebut semakin memperkuat ambisi Como untuk menjadi kekuatan baru sepak bola Eropa. Setelah mengakhiri musim lalu di posisi keempat klasemen Serie A, Como berhasil mengamankan tiket ke Liga Champions Eropa.
Menariknya, status sebagai pendatang baru di kompetisi elite Eropa tidak membuat Como kehilangan kepercayaan diri. Tim besutan Cesc Fabregas justru mampu menghadirkan kejutan melalui serangkaian hasil impresif.
Dari empat pertandingan yang telah dimainkan pada fase kompetisi, Como mencatatkan tiga kemenangan dan satu kekalahan. Hasil tersebut mengantarkan mereka sementara berada di posisi keempat klasemen.
Kemenangan besar atas Manchester United dengan skor 4-1 dan Lens 9-1 semakin memperlihatkan potensi Como sebagai tim yang patut diperhitungkan.
Namun, keberhasilan Como bukan semata-mata hasil dari investasi pemain dan kekuatan finansial. Ada proyek jangka panjang yang sedang dibangun Suwarso bersama Fabregas, yakni menciptakan identitas permainan yang kuat dan berkelanjutan.
Dalam sebuah podcast, Suwarso mengungkapkan bahwa salah satu faktor penting di balik perkembangan Como adalah hubungan harmonis antara presiden klub dan pelatih.
Menurutnya, pelatih harus diberikan ruang yang cukup untuk mengembangkan filosofi permainan. Hubungan tersebut juga dibangun melalui komunikasi terbuka, termasuk kesempatan bagi Fabregas untuk menjelaskan gagasan sepak bolanya kepada manajemen.
Tidak hanya menentukan pola permainan, Fabregas juga mendapatkan keleluasaan dalam memilih pemain yang dinilai sesuai dengan kebutuhan tim.
Kepercayaan tersebut memungkinkan Fabregas menerapkan filosofi permainan yang dipengaruhi latar belakang sepak bolanya. Sebagai mantan pemain Barcelona yang pernah menimba ilmu di akademi La Masia, Fabregas mencoba membawa pendekatan permainan khas Spanyol ke dalam tubuh Como.
Hal itu terlihat dari komposisi skuad Como yang banyak dihuni pemain asal Spanyol maupun pemain yang pernah berkarier dan menimba pengalaman sepak bola di negara tersebut.
Kebijakan perekrutan itu memang tidak lepas dari kritik. Dominasi pemain asing dinilai dapat mengurangi kesempatan bagi pemain lokal Italia untuk berkembang dan mendapatkan tempat di tim utama.
Namun, Fabregas memiliki pertimbangan tersendiri. Menurutnya, menemukan pemain Italia yang benar-benar sesuai dengan karakter permainan yang ingin dibangunnya bukanlah perkara mudah.
Pandangan tersebut juga sejalan dengan pemikiran Suwarso. Sebagaimana diberitakan La Gazzetta dello Sport pada 30 Mei 2026, Suwarso mengakui bahwa ketersediaan pemain Italia yang cocok dengan sistem permainan Como masih terbatas.
Persoalan kuota pemain lokal dan pemain binaan akademi juga menjadi tantangan tersendiri bagi Como ketika harus mendaftarkan skuad untuk kompetisi Eropa.
Salah satu kendalanya adalah usia akademi klub yang relatif muda. Dengan pembinaan yang baru berjalan sekitar tiga tahun, Como belum bisa berharap menghasilkan banyak pemain akademi yang langsung siap memperkuat tim senior.
Meski demikian, Suwarso tidak mengabaikan kritik mengenai dominasi pemain impor. Sebaliknya, Como mulai memperkuat pembinaan pemain muda sebagai bagian dari solusi jangka panjang.
Suwarso menilai pembangunan akademi membutuhkan proses dan kesabaran. Klub tidak bisa mengharapkan hasil instan karena pembentukan pemain yang sesuai dengan filosofi permainan membutuhkan waktu, konsistensi, dan sistem pembinaan yang terarah.
Kehadiran Matteo Papaccioli ketika Como menghadapi Lens menjadi salah satu sinyal positif dari proyek tersebut. Penampilannya memberikan gambaran bahwa pembinaan akademi mulai membuka jalan bagi pemain muda untuk menembus tim senior.
Papaccioli bukan sekadar representasi dari keberhasilan akademi Como, tetapi juga menjadi simbol kehadiran pemain Italia dalam skuad yang selama ini banyak diisi pemain asing.
Lebih dari sekadar meredam kritik, kesempatan yang diberikan kepada pemain muda tersebut menunjukkan bahwa Como mulai membangun fondasi untuk masa depan klub.
Di balik semua pencapaian itu, Suwarso ternyata memiliki ambisi yang jauh lebih besar daripada sekadar mengoleksi trofi.
Ia ingin menjadikan Como sebagai klub yang mempunyai DNA permainan tersendiri. Sebuah identitas yang tetap melekat meskipun klub mengalami pergantian pelatih maupun perubahan komposisi pemain.
Dalam mewujudkan ambisi tersebut, Barcelona menjadi salah satu inspirasi utama.
Barcelona dikenal memiliki filosofi permainan yang dibangun secara konsisten melalui sistem pembinaan akademi. Pergantian pelatih tidak serta-merta menghilangkan identitas permainan yang telah menjadi karakter klub selama bertahun-tahun.
Bahkan, dalam proses perekrutan pemain maupun pelatih, Barcelona selalu berupaya mencari sosok yang mampu beradaptasi dengan filosofi permainan mereka.
Akademi La Masia juga menjadi bagian penting dari keberhasilan tersebut karena secara konsisten melahirkan pemain muda berbakat yang memahami karakter permainan klub.
Model inilah yang tampaknya ingin dikembangkan Suwarso di Como 1907.
Dengan demikian, proyek Como bukan hanya tentang membangun tim yang mampu bersaing dan memenangkan pertandingan dalam waktu singkat. Lebih dari itu, Suwarso ingin menciptakan klub dengan fondasi kuat, akademi produktif, serta identitas permainan yang dapat diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Bagi Suwarso, kesuksesan Como pada akhirnya bukan hanya diukur dari seberapa banyak trofi yang berhasil diraih, melainkan dari kemampuan klub mempertahankan karakter dan daya saingnya dalam jangka panjang.
Komentar