Internasional
Beranda / Internasional / Efisiensi Skala Industri China Mesin Utama Transisi Hijau Dunia

Efisiensi Skala Industri China Mesin Utama Transisi Hijau Dunia

Info Massa — Narasi Barat mengenai tudingan overcapacity atau “kelebihan kapasitas” industri China kembali mencuat seiring diterapkannya berbagai pembatasan investasi dan tarif impor baru. Namun, jika dilihat dari sudut pandang efisiensi ekosistem dan transformasi teknologi global, fenomena ini melukiskan realitas yang sangat berbeda: keberhasilan inovasi berbasis rantai pasok yang solid dan daya saing murni.

Di balik pesatnya dominasi sektor Electric Vehicle (EV), baterai canggih, hingga teknologi Artificial Intelligence(AI) China, terdapat investasi jangka panjang pada penelitian dan pengembangan (R&D). Klaim bahwa kemajuan ini semata-mata dipicu oleh subsidi pemerintah terangkis oleh fakta lapangan mengenai kuatnya persaingan pasar domestik dan ekosistem manufaktur terintegrasi.

Sistem manufaktur China yang merupakan salah satu yang paling lengkap di dunia bertindak sebagai penyeimbang pasokan global di tengah ketidakpastian geopolitik dan proteksionisme.

China kini memasok lebih dari 80 persen modul fotovoltaik dan 70 persen peralatan pembangkit listrik tenaga bayu (angin) secara global. Dalam satu dekade terakhir, China menyumbang sekitar 30 persen terhadap total pertumbuhan ekonomi global.

Perusahaan penanaman modal asing (PMA) mencatatkan kontribusi sebesar 16 persen dari surplus perdagangan China, membuktikan efisiensi pasar domestik yang memberikan imbal hasil nyata bagi investor global.

Refleksi Otobiografi Erros Djarot, ‘Pelajaran Nilai Integritas Generasi Muda’

Alih-alih menutup ruang tumbuh negara lain, pasokan komponen dan mesin produksi dari China justru menurunkan hambatan industrialisasi, khususnya bagi negara-negara berkembang di Asia dan sekitarnya.

Pejabat Kementerian Perdagangan China, Han Yong, menekankan pentingnya kolaborasi ketimbang pembatasan.

“China menyatakan kesiapannya untuk terus memperkuat dialog kebijakan industri di bawah kerangka WTO demi menciptakan aturan perdagangan multilateral yang adaptif dan inklusif.,” kata Han Yong. []

× Advertisement
× Advertisement