Info Massa – Gelar sarjana belum selalu menjadi jaminan seseorang langsung terserap ke dunia kerja. Kajian terbaru Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) menunjukkan masih terdapat tantangan dalam transisi lulusan perguruan tinggi menuju pasar kerja.
Dalam Labor Market Brief Volume 7 Nomor 7, Juli 2026, LPEM FEB UI mengolah data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) 2025 untuk melihat kondisi pasar kerja lulusan berpendidikan minimal S1. Hasil kajian menunjukkan tingkat pengangguran terbuka (TPT) kelompok berpendidikan minimal S1 meningkat dari 5,25 persen pada 2024 menjadi 5,39 persen pada 2025.
Jika dilihat berdasarkan bidang studi pendidikan terakhir, lulusan Manajemen menjadi kelompok yang paling banyak ditemukan di antara penganggur berpendidikan minimal S1, dengan proporsi sekitar 10,3 persen.
Posisi berikutnya ditempati lulusan Hukum sebesar 9,0 persen, Ekonomi 8,7 persen, Pendidikan 7,1 persen, dan Akuntansi 5,1 persen.
Lima bidang studi tersebut secara bersama-sama mencakup sekitar 40 persen dari seluruh penganggur berpendidikan minimal S1.
Namun, angka tersebut perlu dibaca secara hati-hati. LPEM FEB UI menegaskan bahwa data tersebut bukan berarti lulusan Manajemen memiliki tingkat pengangguran 10,3 persen, begitu pula bidang studi lainnya.
Angka 10,3 persen, misalnya, menunjukkan bahwa sekitar 10,3 persen dari seluruh penganggur berpendidikan minimal S1 berasal dari bidang studi Manajemen. Bidang-bidang tersebut juga memiliki jumlah mahasiswa dan lulusan yang relatif besar serta tersedia di banyak perguruan tinggi. Karena itu, secara jumlah, bidang dengan basis lulusan besar berpotensi menyumbang lebih banyak penganggur.
LPEM FEB UI mencatat, luasnya pilihan pekerjaan bagi lulusan Manajemen dan rumpun bisnis tidak otomatis membuat proses masuk ke dunia kerja menjadi lebih mudah. Lulusan bidang tersebut dapat bersaing untuk berbagai posisi awal bersama lulusan Ekonomi, Hukum, Komunikasi, maupun bidang ilmu sosial lainnya.
Fenomena serupa juga terlihat pada lulusan Hukum dan Ekonomi. Meskipun keduanya memiliki jalur profesi yang relatif jelas, tidak seluruh lulusan bekerja pada pekerjaan yang secara langsung berkaitan dengan bidang studinya. Sebagian harus bersaing di pasar kerja umum, termasuk sektor perusahaan, perbankan, pemerintahan, administrasi, konsultasi, dan layanan profesional.
Sementara itu, bidang Pendidikan menyumbang sekitar 7,1 persen dari penganggur berpendidikan minimal S1. Kondisinya dapat dipengaruhi antara lain oleh pola rekrutmen guru, ketersediaan formasi, kebutuhan sekolah yang berbeda antarwilayah, serta persyaratan profesi yang berlaku.
Kajian LPEM FEB UI juga menunjukkan bahwa persoalan lulusan perguruan tinggi tidak berhenti pada mereka yang belum mendapatkan pekerjaan. Ada pula lulusan yang sudah bekerja, tetapi pekerjaannya berada di bawah tingkat pendidikan yang dimiliki atau disebut sebagai overeducation.
Berdasarkan analisis dengan kerangka International Labour Organization (ILO), terdapat sekitar 8,01 juta lulusan minimal S1 yang bekerja pada kelompok jabatan yang dikategorikan berada di bawah tingkat pendidikan mereka. Kelompok terbesar berada pada pekerjaan tata usaha serta jasa dan penjualan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tantangan pendidikan tinggi tidak hanya berkaitan dengan jumlah lulusan, tetapi juga bagaimana lulusan memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan kompetensi dan tingkat pendidikannya.
Karena itu, LPEM FEB UI menekankan pentingnya keterhubungan antara pendidikan tinggi, kompetensi lulusan, kebutuhan industri, serta penciptaan lapangan pekerjaan berketerampilan tinggi.
Data ini pada akhirnya menjadi pengingat bahwa memilih jurusan kuliah tidak cukup hanya berdasarkan popularitas. Calon mahasiswa perlu mempertimbangkan minat, kemampuan, kualitas pendidikan, perkembangan kebutuhan dunia kerja, serta keterampilan praktis yang dapat dikembangkan selama masa perkuliahan.
Sumber: LPEM FEB UI, Labor Market Brief Volume 7 Nomor 7, Juli 2026, menggunakan data Sakernas 2025.