Advertisement
Nasional
Beranda / Nasional / Nilai Tukar Rupiah Mengalami Fluktuasi di Berbagai Era Pemerintahan

Nilai Tukar Rupiah Mengalami Fluktuasi di Berbagai Era Pemerintahan

Nilai tukar rupiah lintas Presiden RI. (Foto: Info Massa/Ist)

Jakarta, Info Massa – Perjalanan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan dinamika yang berbeda pada setiap periode pemerintahan Indonesia. Data yang beredar dalam sebuah infografik di media sosial menampilkan perubahan kurs rupiah dari masa Presiden Soekarno hingga Presiden Prabowo Subianto.

Berdasarkan data tersebut, pada masa pemerintahan Presiden Soekarno periode 1950–1965, nilai tukar rupiah tercatat bergerak dari sekitar Rp3,80 per dolar AS menjadi Rp4.995 per dolar AS. Sementara pada era Presiden Soeharto (1966–1998), kurs rupiah berubah dari sekitar Rp250 menjadi Rp16.800 per dolar AS.

Pada masa Presiden B.J. Habibie (1998–1999), nilai tukar rupiah disebut mengalami penguatan dari sekitar Rp15.000 menjadi Rp6.500 per dolar AS. Selanjutnya pada era Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur (1999–2001), kurs rupiah bergerak dari Rp7.500 menjadi Rp9.800 per dolar AS.

Di masa pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri (2001–2004), nilai tukar rupiah tercatat berubah dari sekitar Rp9.000 menjadi Rp8.000 per dolar AS. Adapun pada periode Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (2004–2014), kurs rupiah bergerak dari Rp9.000 menjadi Rp12.000 per dolar AS.

Sementara itu, pada masa Presiden Joko Widodo (2014–2024), nilai tukar rupiah berubah dari sekitar Rp12.000 menjadi Rp16.550 per dolar AS. Pada periode Presiden Prabowo Subianto yang dimulai tahun 2024, data tersebut mencatat kurs rupiah bergerak dari Rp15.490 menjadi Rp17.905 per dolar AS.

Dolar Menguat, Rakyat Indonesia Terancam Menanggung Tagihan Paling Mahal

Redaksi menilai pergerakan nilai tukar suatu mata uang tidak dapat dilepaskan dari berbagai faktor, baik domestik maupun global. Faktor-faktor tersebut antara lain kondisi ekonomi dunia, kebijakan moneter bank sentral, tingkat inflasi, harga komoditas, arus investasi, hingga situasi geopolitik internasional.

Karena itu, perubahan nilai tukar rupiah pada suatu periode tidak dapat secara langsung dijadikan ukuran tunggal untuk menilai kinerja ekonomi sebuah pemerintahan. Analisis yang komprehensif perlu mempertimbangkan berbagai indikator ekonomi lainnya seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi, tingkat kemiskinan, pengangguran, investasi, serta kondisi ekonomi global yang terjadi pada masing-masing periode.[]

Sumber: Berbagai Sumber

× Advertisement
× Advertisement