KOTA TANGERANG, Info Massa – Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang terus memperkuat kesiapsiagaan dalam menghadapi musim kemarau dan potensi bencana hidrometeorologi berupa kekeringan. Langkah tersebut dilakukan melalui Rapat Koordinasi Hasil Kajian Hidrometeorologi Kekeringan yang melibatkan berbagai instansi untuk menyusun strategi mitigasi secara terpadu.
Rapat koordinasi tersebut dihadiri oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), BMKG, TNI, Polri, Perumda Tirta Benteng, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), serta sejumlah perangkat daerah dan instansi terkait.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Tangerang, Mahdiar, mengatakan bahwa rapat koordinasi ini bertujuan menyatukan langkah seluruh pemangku kepentingan agar penanganan dampak musim kemarau dapat dilakukan lebih cepat, terukur, dan tepat sasaran.
“Antisipasi harus dilakukan sejak dini. Seluruh instansi telah menyampaikan kesiapan masing-masing, mulai dari penyediaan air bersih, personel, armada hingga sarana pendukung penanggulangan kebakaran. Kami ingin memastikan masyarakat tetap mendapatkan pelayanan apabila dampak kekeringan mulai dirasakan,” ujar Mahdiar, Jumat (31/7/2026).
Berdasarkan hasil kajian BMKG, Kota Tangerang masih berada pada periode musim kemarau dengan curah hujan yang diperkirakan rendah hingga September 2026. Kondisi tersebut dipengaruhi fenomena El Nino yang masih aktif sehingga berpotensi meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran.
Meski demikian, Pemkot Tangerang memastikan pelayanan dasar kepada masyarakat tetap berjalan optimal. Di sektor penyediaan air bersih, Perumda Tirta Benteng memastikan pasokan air bagi pelanggan masih dalam kondisi aman.
“Sekitar 99 persen sumber air baku masih berasal dari Sungai Cisadane. Meskipun debit sungai mengalami penurunan sekitar lima persen selama musim kemarau, pasokan air bersih bagi masyarakat masih tetap terjaga,” jelas Mahdiar.
Sebagai langkah antisipasi, Dinas PUPR Kota Tangerang juga telah menyiapkan 30 unit tandon air untuk mendukung distribusi air bersih ke masyarakat sekaligus membantu penanganan kebakaran apabila dibutuhkan. Selain itu, kesiapan jaringan hydrant di berbagai wilayah terus dioptimalkan sebagai bagian dari upaya mitigasi bencana.
Mahdiar menambahkan, BPBD bersama seluruh perangkat daerah akan terus memantau perkembangan kondisi cuaca dan dampaknya di lapangan. Koordinasi lintas sektor akan diperkuat agar setiap potensi kekeringan maupun kebakaran dapat ditangani secara cepat dan efektif.
Ia juga mengajak masyarakat untuk turut berperan aktif dalam menghadapi musim kemarau dengan menggunakan air secara bijak, tidak melakukan pembakaran sampah maupun lahan, serta segera melaporkan apabila menemukan kejadian kekeringan atau kebakaran.
“Kolaborasi pemerintah dan masyarakat menjadi kunci dalam menghadapi musim kemarau tahun ini. Dengan kesiapsiagaan bersama, kita dapat meminimalkan dampak kekeringan dan menjaga keselamatan lingkungan,” tutup Mahdiar.[]