Info Massa – Grup musik legendaris Slank seolah menolak tua dan enggan bermain aman. Tepat pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Jumat (5/6), band yang bermarkas di Potlot ini resmi meluncurkan album studio ke-26 mereka yang diberi judul cukup provokatif, Republik Fufufafa.
Lewat album ini, Slank tampak ingin menegaskan kembali posisi mereka yang sempat dinilai melunak, kembali menjadi corong kritik sosial yang tajam, slengean, dan relevan dengan realitas politik hari ini.
Bukan Slank namanya jika tidak memotret kegelisahan publik. Dedengkot Slank, Bimbim, mengungkapkan bahwa lirik-lirik dalam album ini merupakan hasil kurasi dari berbagai peristiwa dan pemberitaan yang berkembang di masyarakat sepanjang tahun 2024 hingga 2025.
“Kami menulis lagu sesuai dengan kondisi sekarang, meng-capture berita yang terjadi. Ibaratnya kami punya musik, lalu liriknya diisi dengan berita-berita yang kami baca,” ujar Bimbim saat peluncuran album di Jalan Potlot, Jakarta Selatan.
Keberanian Slank langsung terasa pada dua single awal yang telah dilepas ke pasar, yakni “Republik Fufufafa” dan “PPN 12%”. Pemilihan judul yang menyenggol isu sensitif dan kebijakan fiskal negara ini terbukti langsung menggemparkan jagat maya hingga sempat menduduki jajaran trending topic di berbagai platform media sosial. Slank secara blak-blakan menyuarakan apa yang selama ini menjadi rasan-rasan publik di ruang digital.
Tak hanya dari segi lirik, visualisasi album ini juga menyimpan sindiran satir yang kuat. Pada sampul album, kelima personel Slank—Bimbim, Kaka, Ridho, Abdee, dan Ivanka—tampil beda dengan riasan make-up badut nakal (badut nackal) hasil kolaborasi dengan Face Painting Jakarta. Pilihan visual ini seolah menjadi simbol satire atas kondisi sosial-politik yang sering kali dianggap jenaka namun menyimpan ironi.
Kritik tajam Slank tidak berhenti pada isu politik. Melalui video musik terbaru mereka yang berjudul “Rusak Ancur”, Slank melayangkan tamparan keras kepada para perusak lingkungan. Lagu ini menjadi sangat relevan karena dirilis tepat pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia, menandai kepedulian band ini terhadap eksploitasi alam yang kian tak terkendali.
Ada pula lagu “Jangan Rakus” ciptaan Kaka, sebuah refleksi mendalam yang menyindir keserakahan manusia modern atau yang akrab disebut sebagai fenomena “Kaum Mendang-Mending”—mereka yang sibuk membandingkan diri dan tak pernah merasa cukup.
Meski sarat akan muatan politis dan kritik sosial, Slank tidak melupakan akar mereka. Album yang digarap secara maraton selama dua pekan di bulan Ramadan 2025 lalu ini tetap merangkum empat pilar utama Slank: Cinta, Alam, Sosial, dan Youth.
Pendengar akan dimanjakan dengan variasi genre yang segar, mulai dari rock alternative, rock n’ roll yang menghentak, hingga aransemen melankolis nan elegan. Bahkan, kerinduan penggemar akan suara siulan khas Bimbim kembali dihadirkan dalam lagu “My Rinduku”. Sisi emosional band ini juga memuncak lewat lagu “Papa Sid”, sebuah penghormatan sekaligus ruang duka Bimbim atas berpulangnya sang ayah, Pak Sidharta.
Album Republik Fufufafa sudah bisa dinikmati secara digital mulai tengah malam ini, Sabtu, 6 Juni 2026 (06-06-2026). Bagi para kolektor, Slank juga menyiapkan rilisan fisik berupa kaset, CD, dan vinyl dengan sentuhan eksklusif visual kamera analog hasil jepretan fotografer Heret Frasthio.
Apakah album ke-26 ini akan menjadi pembuktian bahwa Slank tetap menjadi “anjing penjaga” bagi ketimpangan sosial? Garis lirik dan distorsi di album Republik Fufufafa ini tampaknya sudah menjawabnya. []