Info Massa – Di tengah bayang-bayang ketegangan geopolitik dunia yang tak menentu, Indonesia justru menunjukkan taji melalui performa fiskal yang impresif dan langkah nyata kemandirian energi. Pesan ini ditegaskan oleh Bendahara Umum DPP Partai PRIMA, Achmad Herwandi, sebagai respons terhadap pihak-pihak yang terus menghembuskan narasi pesimisme di dalam negeri.
Meski konflik Rusia–Ukraina dan tensi di Selat Hormuz menekan stabilitas dunia, Herwandi mengungkapkan bahwa fondasi ekonomi Indonesia justru berada dalam posisi yang sangat solid.
Berdasarkan data hingga 31 Maret 2026, pendapatan negara mencatatkan pertumbuhan signifikan. Indikator Ekonomi Capaian (Per 31 Maret 2026) Pertumbuhan (YoY) Pendapatan Negara Rp. 574,9 Triliun+10,5% Kebijakan BBM Harga Tetap Bersubsidi Hingga Akhir Tahun
“Persepsi adalah realitas dalam ekonomi. Jika kita terus menyebarkan ketakutan tanpa dasar, maka kita sendiri yang merusak fondasi ekonomi nasional,” tegas Herwandi.
Ia menyayangkan munculnya wacana politik ekstrem yang seolah-olah menggambarkan Indonesia sedang berada di bibir jurang krisis tanpa dukungan data yang valid. Menurutnya, hal tersebut justru menjadi ancaman bagi kepercayaan investor dan konsumsi masyarakat.
Selain penguatan fiskal, fokus pemerintah pada hilirisasi energi menjadi sorotan utama. Implementasi mandatori B50yang dijadwalkan meluncur pada 1 Juli 2026 dinilai sebagai langkah progresif untuk memutus ketergantungan pada impor energi.
“Langkah menuju B50 bukan sekadar kebijakan teknis, tetapi strategi besar untuk mengurangi ketergantungan impor energi, memperkuat industri dalam negeri, dan menciptakan nilai tambah nasional,” jelasnya.
Herwandi juga mengapresiasi keberanian pemerintah untuk menjaga harga BBM bersubsidi tetap stabil demi menjaga daya beli masyarakat di tengah fluktuasi harga minyak dunia. Ia menyebut hal ini sebagai bukti nyata kehadiran negara.
“Ini bukan hanya kebijakan ekonomi, tetapi juga bentuk keberpihakan negara kepada rakyat. Pemerintah hadir untuk memastikan masyarakat tidak menanggung beban global sendirian,” ujarnya.
Persatuan Sebagai Kunci Stabilitas
Herwandi mengingatkan bahwa segala pencapaian ekonomi ini akan menjadi sia-sia jika stabilitas politik terganggu oleh narasi-narasi provokatif. Ia mendorong agar kritik yang dilempar ke ruang publik bersifat konstruktif dan berbasis fakta.
“Kunci utama kita hari ini adalah persatuan. Tidak ada negara yang bisa kuat jika terpecah di dalam. Tidak ada ekonomi yang bisa tumbuh jika politiknya tidak stabil,” katanya.
Menutup pernyataannya, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak terjebak dalam “perangkap” pesimisme yang hanya akan melemahkan bangsa.
“Indonesia hari ini berada di persimpangan penting. Di satu sisi ada tantangan global, di sisi lain terbuka peluang besar. Pilihannya ada pada kita: terpecah oleh pesimisme, atau bersatu dalam optimisme. Karena pada akhirnya, kekuatan bangsa ditentukan oleh kemampuannya untuk tetap bersatu di tengah badai,” pungkasnya. []

