Daerah
Beranda / Daerah / Mahasiswa Jateng Aksi Bakar Uang di BI Jateng Imbas Dolar 18.000

Mahasiswa Jateng Aksi Bakar Uang di BI Jateng Imbas Dolar 18.000

Info Massa – Gelombang protes atas terpuruknya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) mulai menyuar di daerah. Ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Kota Semarang dan Kota Solo yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) Jawa Tengah menggelar aksi demonstrasi besar di depan Kantor Bank Indonesia (BI) Perwakilan Jateng, Kamis (5/6/2026) sore.

Dalam aksi yang berlangsung emosional tersebut, massa mahasiswa menggelar teatrikal simbolik dengan membakar uang mainan di atas spanduk duka cita, sebagai simbol “matinya” mata uang garuda.

Berdasarkan pantauan di lokasi sejak pukul 17.00 WIB, massa aksi yang mengenakan jas almamater dari Politeknik Negeri Semarang (Polines), Poltekkes Semarang, dan Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo tampak memadati area depan Gedung BI Jateng.

Mereka datang dengan membawa berbagai atribut perlawanan. Di antaranya poster mencolok bertuliskan ‘RIP Rupiah Sekarat’ serta membentangkan banner raksasa berwarna hitam dengan tulisan ‘Turut Berduka Cita Atas Matinya Rupiah’.

Puncak aksi teatrikal terjadi saat perwakilan mahasiswa menyebarkan ratusan lembar uang mainan di atas banner tersebut, kemudian menyulutnya dengan api. Sembari api berkobar, massa aksi secara serentak melantunkan kalimat tarji (innalillahi wa inna ilaihi rajiun) sebagai tanda keprihatinan mendalam atas kondisi ekonomi sedemikian rupa.

Sudah Dilatih APAR, Pengawas SPBU Justru Benarkan Pembakaran Sampah di Lingkungan SPBU

Koordinator aksi sekaligus Presiden BEM Polines, Kevin Kurnia Priambodo, menegaskan bahwa aksi turun ke jalan ini merupakan respons spontan sekaligus peringatan keras kepada pemerintah dan otoritas moneter. Ia menyebut, posisi rupiah saat ini sudah berada dalam fase lampu merah yang mengancam stabilitas dapur rakyat.

“Nilai tukar rupiah melemah hingga di angka Rp18.030 per dollar AS. Ini menunjukkan kurs nilai tukar rupiah terhadap dollar adalah yang paling lemah sepanjang sejarah Indonesia,” cetus Kevin di sela-sela aksi.

Menurut mahasiswa, angka psikologis Rp18.000 yang jebol ini harus dipandang sebagai alarm bahaya nasional, bukan sekadar siklus ekonomi biasa, karena berdampak langsung pada lonjakan harga bahan pokok dan biaya hidup masyarakat.

Tidak hanya menuntut stabilitas nilai tukar mata uang, dalam orasinya mahasiswa juga mengkritik keras prioritas belanja dan program pemerintah pusat yang dinilai tidak sensitif terhadap krisis moneter yang sedang terjadi.

BEM SI Jateng menyoroti beberapa program megaproyek yang dipaksakan berjalan di tengah ruang fiskal yang sempit, seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih. Mahasiswa menilai program-program tersebut sarat akan ego sektoral dan buruk secara tata kelola.

Birokrasi BGN Amburadul, Program MBG di Bandung Mogok

“Saat ini yang kami sorot bukan masalah kegunaan MBG-nya bagaimana, tapi pengelolaan di lapangan dan juga egosentris yang dilahirkan dari program MBG ini,” tegas Kevin.

Aksi demonstrasi ini berjalan dengan pengawalan ketat dari aparat kepolisian. Mahasiswa mengancam akan membawa massa yang lebih besar dan mengonsolidasikan gerakan di tingkat nasional jika pemerintah tidak segera mengambil langkah taktis ekstraordinari untuk menyelamatkan mata uang rupiah dalam waktu dekat. []

× Advertisement
× Advertisement