Info Massa — Kementerian Luar Negeri Iran secara blak-blakan menuduh Amerika Serikat (AS) berada di balik serangan pesawat nirawak (drone) yang menghantam Bandara Internasional Kuwait pada Rabu (3/6) lalu.
Teheran menyebut insiden berdarah tersebut merupakan operasi pengelabuan (false-flag operation) yang sengaja dirancang Washington demi keuntungan bisnis senjatanya di Timur Tengah.
Tuduhan serius ini dilemparkan oleh Juru Bicara Kemlu Iran, Esmaeil Baqaei. Menurutnya, AS sengaja menciptakan kepanikan massal agar negara-negara Teluk, khususnya Kuwait, merasa terancam dan terpaksa membeli sistem pertahanan udara buatan perusahaan Amerika.
Melalui pernyataan di media sosial X pada Selasa (9/6), Baqaei membeberkan kepingan teka-teki di balik insiden yang melukai lebih dari 60 orang di terminal penumpang tersebut. Ia mengidentifikasi adanya konspirasi dagang berbasis militer yang sangat rapi.
AS dituduh mengerahkan drone tiruan jenis Lucas untuk merusak Bandara Kuwait. Serangan tersebut dirancang agar publik mengira Iran adalah pelakunya, sehingga menciptakan ketakutan regional. Di tengah kepanikan tersebut, AS masuk menawarkan sistem pertahanan udara anti-drone buatan Powerus dengan dalih membantu Kuwait melindungi diri.
“Mereka melakukan operasi pengelabuan untuk menyerang Bandara Kuwait, menciptakan alasan sempurna untuk memasarkan sistem pertahanan udara anti-drone buatan Powerus dengan dalih melindungi diri dari serangan Iran. Sangat menguntungkan!” tulis Baqaei.
Sebelum tuduhan operasi pengelabuan ini mencuat, pihak militer Iran melalui Juru Bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Hossein Mohebbi, telah lebih dulu membantah keras keterlibatan mereka. Mohebbi menegaskan tidak ada satu pun rudal atau drone Iran yang diarahkan ke terminal bandara Kuwait.
Sebaliknya, IRGC melemparkan analisis teknis lain yang memojokkan teknologi militer AS. Mereka menyebut kehancuran parah di bandara tersebut kemungkinan besar dipicu oleh kegagalan operasional (malfunction) dari sistem pertahanan udara Patriot milik AS yang ditempatkan di kawasan tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, insiden di Bandara Kuwait telah berubah menjadi medan pertempuran narasi baru antara Teheran dan Washington. Konfrontasi ini semakin menegaskan betapa tingginya tensi geopolitik di kawasan Teluk, di mana sebuah insiden keamanan lokal dengan cepat bertransformasi menjadi isu konspirasi militer tingkat global.