Info Massa – Tudingan miring yang dilontarkan oleh orator demonstrasi, Yusuf Bachtiar, terkait adanya intervensi dari Wakil Bupati Bogor, Ade Ruhandi (Jaro Ade), terhadap para kepala desa (Kades) di Cijeruk dan Cigombong berbuntut panjang.
Alih-alih membenarkan tudingan tersebut, para kades justru membongkar pola hubungan tak biasa antara mereka dengan sang pimpinan daerah.
Dianggap merasa ditekan terkait sengketa lahan PT BSS, sejumlah kepala desa kompak menyatakan bahwa hubungan mereka dengan Bupati dan Wakil Bupati Bogor justru layaknya anak dan orang tua.
Kepala Desa Tugujaya, Kecamatan Cigombong, Muhamad Rifki Abdilah mengungkapkan, komunikasi yang terjalin selama ini murni merupakan ruang konsultasi agar kebijakan desa tidak menabrak aturan hukum.
“Hubungan kami bukan hanya sekedar pimpinan dan bawahan, namun seperti orang tua yang mengasuh anak-anaknya. Saya pribadi sering berkonsultasi terkait permasalahan yang ada di desa agar tidak salah mengambil langkah,” ujar Rifki melalui pernyataan video yang beredar, Jumat (12/6).
Hal serupa juga diamini oleh Kepala Desa Cijeruk, Asep Saepul Rohman. Bagi Asep, posisi bupati dan wakil bupati adalah ruang aman bagi para kades untuk mengadu ketika roda pemerintahan desa terbentur masalah.
“Tempat kami para kepala desa untuk berkonsultasi dan meminta solusi jika ada permasalahan. Sekali lagi saya tegaskan, tidak ada intervensi,” kata Asep.
Dengan mencuatnya testimoni para kades ini, narasi intimidasi yang sebelumnya ditiupkan di depan Kantor BPN Bogor kini berbalik menjadi sorotan tentang bagaimana manajemen konflik agrarian di tingkat bawah justru diselesaikan lewat jalur konsultasi intensif antara kades dan kepala daerah.