Info Massa — Kualitas produk lokal kembali membuktikan taji di pasar internasional. Ayung Sportindo, pelaku usaha asal Kota Malang yang memproduksi pakaian pelindung keselamatan dan keamanan kerja (K3), mencatatkan lonjakan omzet signifikan setelah berhasil mengekspor produknya ke enam negara sekaligus, mulai dari Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, Rusia, hingga Kolombia.
Pemilik Ayung Sportindo, Asrul Tesani, mengungkapkan bahwa pada 2024 usaha yang dirintisnya mencatatkan omzet tahunan sekitar Rp97 juta. Namun, angka tersebut melambung tinggi hingga melampaui Rp200 juta pada 2025 usai memperluas jangkauan pasarnya ke luar negeri.
“Dampaknya sangat signifikan. Di sini kami tidak hanya mendengarkan materi teori, tetapi praktik langsung mencari buyer, bernegosiasi, onboarding di platform luar negeri, hingga proses pengiriman dan perhitungan kontainer,” ujar Asrul di Kota Malang, Jawa Timur, Jumat.
Selain edukasi soal standardisasi produk dan persyaratan administrasi ekspor, Asrul menekankan pentingnya pembekalan teknis keamanan bertransaksi skala internasional. Menurutnya, pemahaman mendeteksi potensi penipuan (scam) menjadi salah satu kunci vital keberhasilan usahanya menembus pasar global.
“Misalnya untuk memastikan calon pembeli itu valid, ada profil di website yang mencantumkan daftar importir resmi beserta nilai impor per tahunnya. Pengetahuan menyeluruh seperti ini yang membuat kami lebih percaya diri bertransaksi,” tambah Asrul.
Keberhasilan Ayung Sportindo merupakan buah manis dari partisipasi mereka dalam Export Coaching Program yang diselenggarakan Pusat Pelatihan Sumber Daya Manusia Ekspor dan Jasa Perdagangan (PPEJP) Kementerian Perdagangan, bekerjasama dengan Bank Jatim.
Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti Widya Putri, saat meninjau langsung unit usaha tersebut, mengapresiasi keberhasilan produk K3 asal Malang ini dalam bersaing di pasar global. Menurutnya, program pendampingan ini dirancang untuk menghubungkan para pelaku UMKM secara langsung dengan Atase Perdagangan, Indonesia Trade Promotion Center (ITPC), serta calon pembeli dari berbagai negara.
“Ini adalah bentuk kehadiran negara untuk meningkatkan daya saing UMKM. Kami berharap makin banyak produk dalam negeri yang mampu menembus pasar internasional sehingga terus memperkuat kinerja surplus perdagangan Indonesia,” pungkas Dyah Roro. []