Info Massa – Otoritas pajak Tiongkok (State Taxation Administration/STA) baru-baru ini menjatuhkan sanksi denda sebesar 13,3 juta yuan (sekitar Rp35,49 miliar) kepada empat influencer e-commerce atas tuduhan penggelapan pajak.
Di permukaan, ini tampak seperti penegakan hukum biasa. Namun, jika kita melihat rekam jejak Beijing dalam beberapa tahun terakhir, langkah ini adalah bagian dari pola yang jauh lebih besar: upaya sistematis negara untuk meredam kekuasaan, kekayaan, dan pengaruh digital yang mulai menyaingi narasi resmi pemerintah.
Metode “patuh atau lenyap” ini bukan hal baru di Tiongkok. Keempat influencer ini dituduh menyembunyikan pendapatan komisi dari siaran langsung (live streaming) dan mengalirkan uangnya ke rekening pribadi kerabat untuk menghindari pajak.
Kasus ini langsung mengingatkan kita pada nasib para pesohor internet pendahulu mereka. Wang Zibo (Master Bo), Influencer barang mewah dengan jutaan pengikut yang akunnya diblokir karena dinilai memamerkan kekayaan secara berlebihan sebelum akhirnya didenda 13,3 juta yuan karena masalah pajak.
Viya (Huang Wei): Mantan “Ratu Live Streaming” Tiongkok yang didenda fantastis senilai Rp3 triliun (1,34 miliar yuan) pada 2021. Akun media sosialnya yang memiliki lebih dari 110 juta pengikut seketika dihapus bersih dari internet dalam semalam.
Mengapa industri live streaming yang menyumbang triliunan yuan bagi ekonomi digital domestik ini terus-menerus digoyang oleh regulasi ketat? Ada dua alasan kritis yang saling berkaitan:.
Di bawah visi “Common Prosperity” (Kemakmuran Bersama) yang diusung Presiden Xi Jinping, kesenjangan kekayaan yang terlalu mencolok dipandang sebagai ancaman bagi stabilitas sosial.
Seorang influencer dengan puluhan juta pengikut setia memiliki kekuatan opini yang sangat besar—sesuatu yang selalu dicurigai oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT). Dengan menjatuhkan denda raksasa dan menghapus akun mereka, pemerintah mengirimkan pesan yang jelas: Tidak ada individu yang boleh lebih populer atau lebih berpengaruh daripada negara.
Perekonomian Tiongkok sedang menghadapi tekanan berat akibat krisis sektor properti dan penurunan ekspor. Banyak pemerintah daerah yang kini kesulitan keuangan dan kehabisan kas. Menargetkan para livestreamer kaya yang menghasilkan miliaran yuan dalam semalam adalah cara tercepat bagi otoritas pajak untuk mengisi kembali pundi-pundi negara yang mulai menipis.
Regulasi baru yang diterapkan Tiongkok bahkan melarang influencer berbicara tentang topik serius seperti keuangan, hukum, medis, dan pendidikan jika mereka tidak memiliki gelar universitas atau sertifikasi resmi di bidang tersebut. Ini adalah langkah sensor digital halus yang membungkam diskusi publik secara perlahan.
Bagi para kreator konten di Tiongkok, sukses besar kini menjadi pedang bermata dua. Menjadi terlalu kaya dan terlalu vokal hanya akan mempercepat giliran mereka untuk dipanggil oleh otoritas pajak—dan seketika dihapus dari sejarah internet Tiongkok. []