Info Massa – Pendidikan selama ini dipercaya sebagai jalan utama untuk mengubah kehidupan. Orang tua bekerja keras menyekolahkan anak-anaknya dengan satu harapan: semakin tinggi pendidikan, semakin besar peluang untuk hidup lebih baik.
Namun di tengah perubahan ekonomi yang semakin cepat, muncul pertanyaan mendasar: apakah sistem pendidikan kita benar-benar membentuk generasi yang mampu menentukan masa depannya sendiri, atau justru lebih banyak mempersiapkan mereka menjadi tenaga kerja?
Sejak kecil, imajinasi anak tentang masa depan hampir selalu dibingkai oleh profesi.
“Kalau sudah besar mau jadi apa?”
Jawabannya hampir seragam: dokter, guru, polisi, ASN, insinyur, pegawai bank, atau karyawan perusahaan.
Tidak ada yang salah dengan pilihan tersebut. Masyarakat memang membutuhkan tenaga profesional agar sistem sosial dan ekonomi berjalan.
Persoalannya bukan pada profesinya, melainkan pada kecenderungan pendidikan yang terlalu dominan membentuk satu pola pikir: sekolah, lulus, mencari pekerjaan, menerima gaji, lalu bekerja hingga pensiun. Sementara itu, pertanyaan lain jarang mendapat ruang yang setara.
Apa yang ingin kamu ciptakan? Bisakah kamu membangun usaha? Bagaimana sebuah perusahaan berdiri? Bagaimana modal bekerja? Bagaimana ide berubah menjadi produk? Bagaimana seseorang menciptakan lapangan kerja?
Lebih jauh lagi: bagaimana seseorang memahami struktur ekonomi yang memengaruhi kehidupannya?
Pendidikan Kaum Tertindas
Kegelisahan terhadap model pendidikan yang menempatkan peserta didik sebagai penerima pasif pengetahuan bukan hal baru.
Pemikir pendidikan asal Brasil, Paulo Freire, dalam Pedagogy of the Oppressed mengkritik apa yang ia sebut sebagai banking model of education. Dalam model ini, pendidikan diperlakukan seperti aktivitas perbankan: pengetahuan “disetorkan” kepada peserta didik.
Guru mengetahui, murid menerima.
Guru berbicara, murid mendengarkan.
Guru menjelaskan, murid mencatat.
Guru bertanya, murid menjawab sesuai kunci yang dianggap benar.
Jika pola ini terus dominan, peserta didik mungkin menjadi pandai menghafal, tetapi belum tentu memiliki keberanian untuk mempertanyakan realitas.
Padahal pendidikan tidak cukup hanya membuat seseorang mampu membaca kata-kata. Pendidikan juga harus membuat manusia mampu membaca dunia.
Membaca dunia berarti memahami mengapa suatu keadaan terjadi, siapa yang diuntungkan, siapa yang menanggung beban, bagaimana struktur sosial dan ekonomi bekerja, serta apa yang bisa dilakukan untuk memperbaikinya. Di sinilah pendidikan kritis menjadi relevan.
Menghitung Uang, tetapi Tidak Memahami Uang
Anak-anak belajar matematika selama bertahun-tahun di sekolah. Namun setelah itu, berapa banyak yang benar-benar memahami cara kerja uang?
Apakah mereka memahami bunga majemuk?
Apakah mereka bisa membedakan kebutuhan, konsumsi, kewajiban, dan aset?
Apakah mereka memahami risiko investasi?
Apakah mereka mampu membaca laporan keuangan sederhana?
Apakah mereka memahami arus kas, modal, pajak, keuntungan, dan kerugian?
Apakah mereka tahu bagaimana sebuah usaha tumbuh dan berkembang?
Kita mengajarkan anak menghitung uang, tetapi belum tentu mengajarkan mereka memahami uang.
Akibatnya, banyak generasi muda baru belajar soal keuangan setelah memasuki dunia kerja. Mereka tahu cara mendapatkan uang, tetapi belum tentu tahu cara mengelolanya menjadi aset yang memperkuat kemandirian ekonomi.
Padahal literasi finansial seharusnya menjadi bagian penting dari pendidikan kehidupan.
Dari Pencari Kerja Menjadi Pencipta Nilai
Pendidikan Indonesia juga perlu meninjau ulang cara memperkenalkan kewirausahaan. Adapun Kewirausahaan tidak cukup diajarkan sebagai teori atau sekadar proyek membuat dan menjual produk di sekolah. Kewirausahaan adalah kemampuan membaca persoalan dan mengubahnya menjadi nilai.
Peserta didik perlu belajar bagaimana menemukan kebutuhan masyarakat, merancang produk atau jasa, menentukan harga, menghitung biaya, melakukan pemasaran, bernegosiasi, menghadapi kerugian, mencari modal, hingga mengembangkan usaha.
Yang lebih penting lagi, mereka perlu belajar menghadapi ketidakpastian. Sebab kehidupan nyata tidak menyediakan pilihan jawaban seperti soal ujian.
Dalam kehidupan, seseorang harus mengambil keputusan bahkan ketika jawabannya belum jelas. Di sinilah pendidikan seharusnya melatih keberanian berpikir.
Jika setelah bertahun-tahun sekolah pertanyaan pertama seorang lulusan adalah “di mana lowongan pekerjaan?”, maka kita perlu bertanya balik:
mengapa pendidikan tidak sekaligus membangun keberanian untuk bertanya: apa yang bisa saya ciptakan?
Indonesia tentu membutuhkan pencari kerja. Tetapi yang lebih dibutuhkan adalah manusia yang mampu menciptakan nilai dan lapangan kerja.
Kepatuhan Bukan Tujuan Pendidikan
Sekolah membutuhkan aturan dan disiplin. Tanpa itu, proses pendidikan tidak akan berjalan. Namun disiplin tidak boleh berubah menjadi budaya yang mematikan pertanyaan.
Anak yang terlalu takut salah akan tumbuh menjadi orang dewasa yang takut mencoba. Anak yang terbiasa menerima satu jawaban akan kesulitan menghadapi masalah yang kompleks. Anak yang hanya menunggu instruksi berisiko kehilangan inisiatif.
Padahal inovasi hampir selalu lahir dari keberanian mempertanyakan sesuatu yang dianggap biasa.
Mengapa harus seperti ini?
Apakah ada cara yang lebih baik?
Bisakah sesuatu dibuat lebih murah, lebih cepat, lebih adil, atau lebih bermanfaat?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini adalah awal dari inovasi, kewirausahaan, dan perubahan sosial.
Karena itu, pendidikan kritis bukan berarti melawan guru atau menolak otoritas. Pendidikan kritis adalah kemampuan untuk bertanya, menganalisis, membangun argumen, berdialog, dan menawarkan alternatif secara bertanggung jawab.
Jangan Menyalahkan Guru
Kritik terhadap sistem pendidikan tidak boleh berubah menjadi penghakiman terhadap guru.
Guru bukan satu-satunya penyebab persoalan pendidikan. Mereka bekerja dalam sistem yang dibentuk oleh kurikulum, kebijakan, fasilitas, kondisi sosial-ekonomi, dan beban administratif.
Bahkan di banyak tempat, guru justru menjadi pihak yang membuka wawasan peserta didik. Karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukan apakah guru gagal mencetak orang kaya, melainkan:
apa orientasi pendidikan yang sedang kita bangun?
Apakah keberhasilan hanya diukur dari nilai, ijazah, dan pekerjaan? Atau juga dari kemampuan mencipta, berinovasi, membangun usaha, dan menyelesaikan masalah masyarakat?
Menjadi Karyawan Bukan Kegagalan
Perlu ditegaskan: menjadi karyawan bukan kegagalan. Bangsa ini tetap membutuhkan dokter, guru, perawat, teknisi, insinyur, peneliti, jurnalis, ASN, dan berbagai profesi lainnya.
Yang perlu dikritisi adalah ketika pendidikan hanya menawarkan satu narasi keberhasilan: sekolah, kerja, gaji, pensiun.
Padahal seseorang bisa menjadi karyawan sekaligus investor. Guru bisa memiliki usaha.
Petani bisa membangun bisnis. Teknisi bisa menciptakan produk. Mahasiswa bisa membangun startup.
Pendidikan seharusnya memberi kemampuan untuk memahami semua kemungkinan itu. Dengan demikian, ukuran keberhasilan pendidikan bukan apakah semua orang menjadi pengusaha, tetapi apakah pendidikan memberi kemerdekaan untuk memilih jalan hidup.
Pendidikan yang Membebaskan
Pada akhirnya, pendidikan kritis bukan tentang menjadikan semua orang kaya. Kekayaan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan manusia.
Pendidikan yang membebaskan adalahi pendidikan yang memberikan kemerdekaan berpikir dan kemampuan menentukan hidup sendiri. Peserta didik perlu memahami ekonomi, teknologi, masyarakat, hak, serta struktur yang memengaruhi kehidupan mereka.
Mereka perlu memahami bagaimana kekayaan diciptakan, bagaimana pekerjaan berubah, dan bagaimana teknologi mengubah dunia kerja.
Karena itu, pertanyaan kepada anak-anak tidak boleh berhenti pada:
“Kelak kamu mau jadi apa?”
Tetapi juga:
“Apa yang ingin kamu ciptakan?”
Bukan hanya:
“Di perusahaan mana kamu ingin bekerja?”
Tetapi juga:
“Bisakah kamu membangun perusahaan?”
Bukan hanya:
“Bagaimana mendapatkan pekerjaan?”
Tetapi juga:
“Bagaimana menciptakan pekerjaan dan nilai bagi orang lain?”
Indonesia tidak kekurangan anak cerdas. Yang dibutuhkan adalah sistem pendidikan yang memberi ruang agar kecerdasan itu tumbuh menjadi keberanian, kreativitas, dan kemandirian.
Maka pendidikan seharusnya tidak berhenti pada ambisi mencetak lulusan siap kerja, tetapi juga mencetak generasi yang siap menciptakan kerja.
Sebab pendidikan yang membebaskan bukan pendidikan yang menentukan apa yang harus dipikirkan anak, melainkan pendidikan yang mengajarkan cara berpikir, memahami dunia, memilih jalan hidup, dan berani mengubah keadaan.[]