Info Massa — Pengamat kebijakan Publik, Muhammad Senanatha, menyorot tajam gelaran Turnamen Golf Wali Kota Cup II Kota Tangerang-Banten yang dijadwalkan berlangsung pada 27 Agustus 2026. Dari besaran hadiah yang dipamerkan dan sumber pembiayaan turut dipertanyakan serta bagaimana manfaat untuk masyarakat ketika penyelenggara menjual nama Wali Kota Tangerang.
Menurut Senanatha, publik sebagai sumber mutlak pendapatan daerah, perlu mengetahui setiap rupiah yang digunakan, terlebih turnamen golf yang identik dengan kalangan elit ini dengan percaya diri membawa nama Wali Kota Tangerang.
“Saya tidak mempersoalkan masyarakat bermain golf. Silakan. Tetapi pemerintah harus punya kepekaan. Jangan sampai rakyat yang sedang memikirkan biaya sekolah anak, pekerjaan, kebutuhan rumah tangga, dan fasilitas publik justru disuguhi kemewahan sebuah turnamen,” ujar Senanatha.
Dalam poster turnamen yang beredar, terdapat sejumlah kendaraan roda empat yang dijanjikan sebagai hadiah, di antaranya JAECOO J5, Toyota Innova Zenix, BYD Atto 1, dan Mitsubishi Destinator. Selain itu, tersedia grand lucky draw berupa uang tunai Rp30 juta.
Ketua PGI Kota Tangerang Nana Setiana Soebarna sebelumnya menyebut turnamen golf Piala Wali Kota Tangerang menjadi agenda tahunan. Dalam pemberitaan di salah satu berita online, Nana mengatakan nilai hadiah hole in one pada 2025 mencapai Rp2,5 miliar dan tahun ini akan lebih besar.
”Pada tahun 2025 kemaren, hadiah utama hole in one ada beberapa unit mobil yang totalnya senilai Rp2,5 milyar. Tahun ini pastinya total hadiah hole in one lebih dahsyat dari yang sebelumnya,” jelas Nana.
Pernyataan tersebut menjadi sorotan jika dikaitkan dengan Surat Keputusan PB PGI Nomor 156/KU/PGI/XII/2021 tentang Batas Hadiah Kompetisi Golf Amatir. Dalam keputusan tersebut, pegolf amatir di Indonesia dapat menerima hadiah sesuai Rules of Amateur dengan nilai hingga Rp10 juta.
Ketentuan itu membuat kategori pertandingan, status peserta, dan mekanisme pemberian hadiah Wali Kota Cup II perlu diperjelas. Terlebih, nilai hadiah hole in one yang ditawarkan jauh di atas batas hadiah bagi pegolf amatir sebagaimana ketentuan PB PGI.
Senanatha meminta panitia dan pemerintah terbuka mengenai sumber pembiayaan hadiah, bentuk keterlibatan pemerintah, serta manfaat kegiatan bagi pengembangan olahraga di Kota Tangerang.
”Kalau semuanya berasal dari sponsor, buka siapa sponsornya dan berapa nilai kontribusinya. Kalau ada dukungan pemerintah, jelaskan bentuk dan dasar dukungannya. Jangan biarkan publik menerka-nerka,” tegasnya.
Ia juga mempertanyakan manfaat yang ditinggalkan setelah turnamen selesai, terutama jika kegiatan tersebut dikaitkan dengan pengembangan olahraga daerah.
”Setelah turnamen selesai, apa yang ditinggalkan untuk rakyat? Apakah ada pembinaan atlet muda, fasilitas olahraga, atau program untuk pemuda? Jangan sampai setelah hadiah mobil diberikan, masyarakat kembali ke persoalan mereka masing-masing dan tidak mendapatkan apa-apa,” katanya.
Senanatha menegaskan kritik tersebut bukan bentuk penolakan terhadap golf, melainkan dorongan agar kegiatan yang membawa nama pemerintah memiliki transparansi dan manfaat publik yang jelas.
”Kami bukan anti-golf. Kami hanya ingin memastikan setiap kegiatan yang membawa nama pemerintah punya keberpihakan dan manfaat yang jelas. Kalau memang untuk masyarakat, buktikan manfaatnya kepada masyarakat,” pungkasnya. []