Info Massa – Dinas Kesehatan (Dinkes) serta Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kabupaten Ngawi menyesalkan penyajian menu Makan Bergizi Gratis (MBG) berupa Mango Sticky Rice (ketan mangga fla) oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Ngawi-Pitu-Ngancar.
Menu kekinian tersebut dinilai tidak peka terhadap kebiasaan dan selera makanan anak sekolah dasar (SD) di daerah setempat, sehingga menyebabkan banyak siswa enggan memakannya dan berpotensi memicu pemborosan makanan.
Kepala Dinkes Kabupaten Ngawi, dr. Heri Nurfahrudin, menjelaskan bahwa secara kandungan gizi, olahan ketan memang bisa menjadi karbohidrat pengganti nasi. Namun, pemilihan jenis menu pengganti seharusnya tetap mempertimbangkan kearifan lokal dan kebiasaan makan anak-anak.
“Dari sisi kebutuhan, nasi dapat diganti jadah atau ketan karena mungkin nilainya (gizi) sama. Tetapi kenyataannya anak tidak terbiasa dengan makanan seperti itu,” ujar Heri, Kamis (5/11/2026).
Heri menyayangkan pihak SPPG yang dinilai kurang peka, padahal setiap unit pelayanan gizi sudah dibekali oleh tenaga ahli gizi.
“Semestinya SPPG peka makanan apa yang menjadi kegemaran anak. Mungkin secara teori (menu kekinian) benar, tapi kalau secara lokal tidak bisa menerima maka akan membuat anak-anak tidak mau makan,”tegasnya.
Senada dengan hal tersebut, Kepala DP3AKB Kabupaten Ngawi, dr. Nugrahaningrum, meminta SPPG lebih mengutamakan menu bermuatan lokal yang disukai anak-anak penerima manfaat agar program MBG berjalan efektif dan tepat sasaran.
“Kalau tidak dimakan kan sayang. Jadinya mubazir,” kata Ningrum.
Ningrum juga mendorong pihak wali murid dan para guru untuk tidak ragu menyampaikan masukan atau kritik apabila menemukan sajian menu MBG yang dianggap kurang sesuai atau tidak memenuhi standar gizi.
“Keluhan apa mohon disampaikan,” tambahnya.
Sebelumnya, keluhan terkait menu Mango Sticky Rice ini disampaikan oleh salah satu pimpinan sekolah dasar berinisial AN di Desa Ngancar, Kecamatan Pitu, Kabupaten Ngawi. Ia mengungkapkan bahwa pada Jumat (30/10/2026), banyak siswanya yang menolak menyantap sajian ketan mangga dengan saus fla tersebut.
“Tiap hari Jumat dikasih menu non-nasi seperti mangga-ketan ditambah dengan fla. Kalau anak-anak dikasih seperti itu tidak mau makan. Apakah SPPG tidak bisa memenuhi menu yang menarik untuk anak-anak sekolah?” ungkap AN. []