Info Massa – Setiap tanggal 1 Mei, jutaan buruh di seluruh dunia turun ke jalan. Namun, di balik riuh rendah yel-yel tuntutan kesejahteraan, tersimpan memori kelam dari sebuah persimpangan jalan bernama Haymarket Square di Chicago, Amerika Serikat.
Peristiwa tahun 1886 ini bukan sekadar demonstrasi biasa, ia adalah titik balik yang mengubah wajah hubungan industrial selamanya.
Pada akhir abad ke-19, kondisi kerja di era Revolusi Industri sangatlah brutal. Buruh sering kali dipaksa bekerja 10 hingga 16 jam sehari dalam kondisi yang tidak aman. Gerakan untuk menetapkan standar “Delapan Jam Kerja” pun mulai menguat.
Puncaknya terjadi pada 1 Mei 1886, ketika sekitar 300.000 buruh di seluruh AS melakukan aksi mogok kerja. Chicago menjadi pusat perlawanan dengan jumlah massa terbesar.
Ketegangan mencapai titik didih pada 4 Mei 1886. Saat massa mulai membubarkan diri karena hujan, barisan polisi merangsek maju. Tiba-tiba, sebuah bom rakitan dilemparkan oleh orang tak dikenal ke arah barisan polisi. Ledakan itu memicu baku tembak dan kekacauan masif.
Peristiwa ini mengakibatkan tujuh polisi dan setidaknya empat warga sipil tewas, serta puluhan lainnya luka-luka. Dampaknya jauh lebih luas dari sekadar jumlah korban fisik. Peristiwa ini memicu gelombang represi terhadap gerakan buruh dan aktivis anarkis di Amerika.
Sejumlah penulis dan sejarawan telah mendokumentasikan betapa krusialnya peristiwa ini bagi peradaban modern.
James Green dalam bukunya Death in the Haymarket (2006), menyebutkan peristiwa sejarah itu bukan sekadar tindakan anarkis. Namun, ada nilai perjuangan hak yang dibalas dengan hukuman tajam bagi para demonstran.
“Haymarket bukan hanya tentang bom yang meledak, tetapi tentang perjuangan kelas yang meledak di jantung demokrasi Amerika. Peristiwa ini menciptakan martir yang suaranya justru terdengar lebih keras setelah mereka dieksekusi,” dikutip dari Death in the Haymarket.
Howard Zinn dalam A People’s History of the United States juga menekankan bahwa hukuman yang diberikan kepada demonstran sangat tidak mendasar. Terlebih, soal siapa yang melakukan pelemparan bom ke barisan aparat keamanan.
“Bukti-bukti terhadap delapan anarkis yang diadili sangatlah lemah; tidak ada bukti yang menghubungkan mereka dengan pelemparan bom tersebut. Namun, juri menjatuhkan hukuman mati karena ide-ide mereka, bukan karena perbuatan mereka,” tulis A People’s History of the United States.
Sementara Paul Avrich dalam The Haymarket Tragedy mencatat bahwa tragedi berdarah tersebut menjadi cikal bakal peringatan hari buruh se-dunia.
“Tragedi ini menjadi simbol internasional bagi perjuangan buruh. Chicago 1886 adalah alasan mengapa 1 Mei dipilih sebagai Hari Buruh Internasional oleh Kongres Sosialis Internasional di Paris pada 1889,” catat The Haymarket Tragedy.
Meskipun para pemimpin buruh (Albert Parsons, August Spies, dkk.) dieksekusi di tiang gantung, tuntutan mereka akhirnya menjadi standar global.
Kini, setiap kali kita menikmati akhir pekan atau pulang kerja setelah delapan jam, kita sebenarnya sedang menikmati warisan dari para buruh yang berdiri teguh di Haymarket Square. Hari Buruh bukan sekadar hari libur, melainkan pengingat bahwa hak-hak pekerja hari ini dibayar dengan keberanian dan pengorbanan di masa lalu. [[