Info Massa – Menteri Luar Negeri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani,menegaskan pentingnya konsolidasi kekuatan politik negara-negara kecil di panggung diplomasi global.Dalam pidatonya di Oxford Union pada Jumat (6/11), Al Thani mengusulkan narasi diplomasi baru bertajuk “Thriving States” guna merespons dinamika ketegangan geopolitik dan dominasi kekuatan besar (great powers).
Istilah Thriving States merujuk pada kelompok negara berskala wilayah kecil namun memiliki stabilitas politik,ketangkasan ekonomi, serta kapasitas diplomasi yang kuat. Al Thani menilai keterbatasan teritorial bukan lagi alasan untuk bersikap pasif dalam percaturan politik internasional.
“Gagasan saya adalah negara-negara Thriving States ini, yang telah menjadi kontributor penting bagi kemakmuran global, kini memiliki posisi unik untuk memainkan peran yang sama pentingnya dalam perdamaian internasional. Bukan melalui inisiatif masing-masing, melainkan melalui pendekatan kolektif,terstruktur, dan berkelanjutan,” ujar Al Thani.
Langkah Menlu Qatar ini dinilai sebagai dorongan politik strategis agar negara-negara menengah dan kecil (middle & small powers) membentuk blok kolektif penyeimbang. Selama ini, negara-negara kecil cenderung terhimpit dalam benturan kepentingan aktor-aktor utama dunia.
“Negara-negara kecil semakin sering menjadi korban pertama dalam konflik yang bukan disebabkan oleh mereka sendiri,” tegas Al Thani memperingatkan.
Meski tidak bermaksud menggantikan dominasi negara penentu arah geopolitik (great powers), sinergi jaringan diplomatik dan kekuatan ekonomi Thriving States diyakini mampu membangun ‘rantai pasok perdamaian’ yang lebih solid.
“Kita tidak dapat menyerahkan stabilitas kita kepada pihak lain, dan kita juga tidak seharusnya menyerah pada sikap tidak bertindak. Sejarah dipenuhi bayang-bayang mereka yang hanya menjadi penonton pasif, dan hanya mengabadikan mereka yang bertindak untuk membentuk sejarah,” tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, Al Thani juga menyoroti peran sentral perpolitikan luar negeri Qatar yang konsisten mengambil posisi mediator, khususnya dalam meredakan eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Ia mengungkapkan bahwa Doha terus menggalang komunikasi intensif dengan pihak-pihak berwenang di Washington maupun Teheran guna mencegah benturan militer terbuka.
“Berkat sejumlah suara bijak di Teheran, kami juga berhasil mencegah situasi tersebut lepas kendali,” katannya.
Menanggapi lanskap politik domestik AS pasca-pemilihan umum, Al Thani menilai pergeseran kepemimpinan di Washington mungkin membawa penyesuaian pada arah kebijakan luar negeri, namun niat dasar pencapaian stabilitas diprediksi tidak bergeser secara signifikan. Menurutnya, kepemimpinan diplomasi harus bersikap pragmatis dan responsif terhadap setiap momentum politik yang ada.
“Kita tidak akan pernah memiliki kesepakatan perdamaian yang sempurna. Namun, kita tidak bisa hanya menunggu sampai tercapai kesepakatan yang sempurna dan mengabaikan peluang untuk mencapai kesepakatan yang baik,” pungkasnya, sembari memastikan keberlanjutan peran Qatar di garis depan diplomasi global. []