Ragam Massa
Beranda / Ragam Massa / 5 Rangkaian Tradisi Suci Perayaan Hari Raya Nyepi

5 Rangkaian Tradisi Suci Perayaan Hari Raya Nyepi

Info Massa – Pulau Dewata kembali bersiap memasuki momen paling sunyi namun paling bermakna dalam kalender Saka. Hari Raya Nyepi bukan sekadar hari libur nasional, melainkan sebuah simfoni spiritual yang melibatkan rangkaian ritual panjang, mulai dari pembersihan alam semesta hingga pengendalian diri total dalam kesunyian.

Nyepi, yang menandai Tahun Baru Saka, memiliki daya tarik budaya yang luar biasa bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Namun, di balik daya tarik visualnya, tersimpan makna mendalam tentang harmonisasi antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Berikut adalah tahapan tradisi utama yang menghidupkan semangat Nyepi:

1. Ritual Melasti: Penyucian di Tepian Samudra

Beberapa hari sebelum Nyepi, umat Hindu di Bali berbondong-bondong menuju sumber air suci—biasanya pantai atau danau—sambil mengusung pratima (simbol suci Dewa). Ritual Melasti bertujuan untuk menyucikan benda-benda sakral dan mengambil Angamet Tirta Amerta (air suci kehidupan) untuk membersihkan kotoran diri dan alam semesta.

2. Pengerupukan dan Parade Ogoh-Ogoh

Satu hari sebelum Nyepi (H-1) adalah masa transisi yang ramai. Ritual dimulai dengan Tawur Kesanga, yaitu upacara persembahan agar roh jahat tidak mengganggu manusia.

Di Balik “Oknum”: Siapa Sesungguhnya Pelaku Penyiraman Andrie Yunus?

Puncaknya terjadi pada malam hari melalui Parade Ogoh-ogoh. Boneka raksasa yang melambangkan Bhuta Kala(kekuatan negatif) diarak keliling desa dengan iringan gamelan yang riuh. Di akhir parade, Ogoh-ogoh tersebut akan dibakar sebagai simbol pemusnahan sifat-sifat buruk dalam diri manusia sebelum memasuki hari yang suci.

3. Catur Brata Penyepian: Puncak Keheningan

Saat matahari terbit di hari Nyepi, Bali seolah “mati” selama 24 jam. Tidak ada aktivitas pasar, bandara ditutup, dan jalanan kosong melongpong. Umat Hindu wajib menjalankan Catur Brata Penyepian, yang terdiri dari empat pantangan utama:

  • Amati Geni: Tidak menyalakan api atau lampu (termasuk tidak mengobarkan amarah).
  • Amati Karya: Tidak bekerja atau melakukan aktivitas fisik.
  • Amati Lelunganan: Tidak bepergian atau keluar rumah.
  • Amati Lelanguan: Tidak mencari hiburan atau bersenang-senang.

4. Ngembak Geni dan Omed-Omedan

Sehari setelah Nyepi, suasana kembali semarak dengan tradisi Ngembak Geni. Masyarakat biasanya melakukan Dharma Santi atau saling mengunjungi keluarga dan tetangga untuk bermaaf-maafan.

Di beberapa daerah seperti Banjar Kaja Sesetan, Denpasar, terdapat tradisi unik bernama Omed-omedan (tradisi tarik-menarik dan ciuman antar pemuda-pemudi) yang dilakukan untuk menjaga kerukunan dan menjauhkan desa dari bala.

5. Tradisi Perang Api, Simbol Pengusiran Roh Jahat

Saat matahari mulai tenggelam di ufuk barat pada malam Pengerupukan, suasana di beberapa desa adat di Bali justru memanas. Di tengah persiapan menuju kesunyian total Hari Raya Nyepi, masyarakat di Desa Adat Nagi, Gianyar, kembali menggelar tradisi turun-temurun yang mendebarkan: Perang Api atau Mesiat Geni.

Dirjenpas Cek Kesiapan Lapas Jelang Nyepi dan Lebaran

Bukan sekadar atraksi keberanian, tradisi ini merupakan simbolisasi dari pembersihan diri dan alam semesta dari energi negatif (Bhuta Kala) sebelum memasuki masa meditasi 24 jam.

Tradisi ini melibatkan puluhan pemuda desa yang bertelanjang dada. Senjata mereka bukanlah pedang atau tombak, melainkan Prakpak—bundel daun kelapa kering yang dibakar hingga membara.

Dalam suasana remang-remang, dua kelompok pemuda akan saling berhadapan. Begitu aba-aba dimulai, mereka saling memukulkan prakpak yang menyala ke tubuh lawan. Percikan api yang beterbangan di udara menciptakan pemandangan yang magis sekaligus menegangkan bagi para penonton yang memadati lokasi.

Makna Filosofis: Membakar Sifat Buruk

Meski terlihat berbahaya, Perang Api memiliki aturan yang dijunjung tinggi. Tidak ada rasa dendam setelah ritual berakhir. Berikut adalah poin-poin penting di balik tradisi ini:

  • Purifikasi: Api dianggap sebagai elemen suci yang mampu menghanguskan sifat-sifat buruk atau Adharma.
  • Solidaritas: Tradisi ini mempererat ikatan persaudaraan antar pemuda desa melalui keberanian kolektif.
  • Keseimbangan: Setelah “perang” usai, api dipadamkan, melambangkan kemenangan atas hawa nafsu sebelum memasuki keheningan Catur Brata Penyepian. []
Viral! Acha Septriasa ‘Dirujak’ Netizen X Usai Kritik Program Makan Bergizi Gratis: “Efektif atau Boros Anggaran?”
× Advertisement
× Advertisement