Info Massa – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (Pemprov NTB) mengajukan perlindungan atas 207 ribu hektare lahan sawah untuk ditetapkan sebagai Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B).
Langkah strategis ini diambil guna mengunci kawasan pertanian dari ancaman alih fungsi lahan mendesak akibat pertumbuhan penduduk dan pembangunan perumahan.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) NTB, Lalu Mirza Amir Hamzah, menjelaskan bahwa luas Lahan Baku Sawah (LBS) di NTB saat ini tercatat mencapai 237.341 hektare. Dari total tersebut, sekitar 87 persen di antaranya diusulkan menjadi lahan abadi yang dilindungi hukum.
“Sekarang LBS kita 237 ribu, sekarang mau direvisi diajukan minimal 87 persen dari LBS untuk ditetapkan menjadi LP2B. Saat ini sedang berproses di ATR (Agraria dan Tata Ruang) sesuai Perpres,” ujar Lalu Mirza Amir Hamzah di Mataram, Rabu.
Lalu Mirza menegaskan bahwa penataan ulang dalam revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) ini memperhitungkan proyeksi laju penduduk serta kebutuhan sektor jasa. Skema penggantian ketat juga diberlakukan jika ada lahan baku yang terpaksa terpakai.
“Jadi nggak asal caplok. Kalau menggunakan lahan yang masuk LBS harus mengganti ke lahan lain juga,” tegas Mirza.
Untuk memertahankan tingginya produksi pangan di tengah keterbatasan lahan, Pemprov NTB mengandalkan program optimalisasi lahan (Oplah) dan sistem irigasi perpompaan.
“Dengan pompanisasi, lahan yang tadinya hanya bisa tanam sekali, kini bisa dua kali,” tambah Mirza.
Langkah pengamanan lahan dan optimalisasi ini sejalan dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang memproyeksikan produksi padi NTB tahun 2026 mampu mencapai 1,73 juta ton Gabah Kering Giling (GKG),atau tumbuh 1,08 persen dibandingkan tahun sebelumnya di tengah tantangan fenomena iklim El Nino.
Kepala BPS NTB, Wahyudin, mengungkapkan bahwa penopang utama lonjakan produksi ini berasal dari performa positif panen periode Januari hingga April (subround pertama).
“Subround I naik, itulah yang menyebabkan produksi secara total naik. Subround pertama lahan paling luas,sehingga Januari sampai April lumayan besar (produksi) dibandingkan tahun lalu,” kata Wahyudin.
Berdasarkan catatan BPS NTB, kinerja sektor pertanian pada subround pertama 2026 mencatatkan capaian luas panen meningkat 11,99 persen dari 159,65 ribu hektare menjadi 178,79 ribu hektare.
Sementara Total Produksi naik 12,58 persen (bertambah 108,41 ribu ton) dari 861,46 ribu ton menjadi 969,86 ribu ton GKG.
Capaian impresif pada empat bulan pertama 2026 tersebut menjadi bantalan utama yang menjaga tren pertumbuhan produksi padi tahunan NTB tetap positif dari dampak tekanan kekeringan. []