Info Massa – Perayaan Hari Buruh Internasional (May Day) 2026 di Kota Bandung yang seharusnya menjadi panggung aspirasi buruh justru berakhir di tangan kepolisian. Polda Jawa Barat resmi menetapkan enam pemuda sebagai tersangka atas aksi anarkis yang menghanguskan fasilitas publik di kawasan Tamansari, Senin (4/5).
Ironisnya, dari hasil penyidikan, mayoritas mereka yang kini terancam hukuman pidana tersebut masih berstatus sebagai pelajar dan mahasiswa.
Keenam tersangka tersebut berinisial MRN (21), MRA (17), RS (19), MFNA (19), FAP (21), dan HIS (20). Mereka merupakan bagian dari massa berpakaian hitam yang diduga menyusup ke tengah aksi buruh untuk melakukan provokasi.
Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Pol Hendra Rochmawan, mengungkapkan bahwa para tersangka terbukti melakukan aksi terencana yang berujung pada kerugian material cukup besar.
“Mereka terbukti melakukan tindak pidana pembakaran, penghasutan, dan perusakan secara bersama-sama. Aksi tersebut mengakibatkan terbakarnya satu unit videotron, satu pos polisi, serta perusakan fasilitas publik berupa lampu lalu lintas,” jelas Hendra.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyayangkan bagaimana sebuah aksi unjuk rasa bisa bergeser menjadi tindakan kriminal murni. Ia menyoroti bahwa batas antara kebebasan berpendapat dan anarkisme terletak pada perilaku massa di lapangan.
“Pembentangan spanduk kita hargai, tapi begitu mulai pembakaran, tentu harus kita cegah,” tegas Farhan.
Ia juga menambahkan bahwa aksi para tersangka ini tidak hanya merusak fasilitas milik negara, tetapi juga menghancurkan mata pencaharian warga kecil. “Yang paling kasihan, ada warung kecil yang ikut terbakar. Ini yang harus kita lindungi,” tambahnya.
Meski Pemkot Bandung dan aparat keamanan telah menyiagakan “Siskamling dan Ronda” di seluruh wilayah sejak Jumat malam, para tersangka tetap berhasil melakukan aksi pembakaran di satu titik, yakni Tamansari.
Kini, keenam pemuda tersebut harus mempertanggungjawabkan perbuatan mereka. Penyidik Polda Jabar masih mendalami apakah ada aktor intelektual atau organisasi tertentu yang menggerakkan para pelajar ini untuk melakukan aksi “hitam” di tengah hari besar para buruh. []