Internasional
Beranda / Internasional / Di Balik Tragedi CITIC Tower, Saat Kesehatan Mental Lansia Menjelma Jadi Ancaman Keamanan Publik

Di Balik Tragedi CITIC Tower, Saat Kesehatan Mental Lansia Menjelma Jadi Ancaman Keamanan Publik

Info Masso – Sebuah pesawat ringan bermesin tunggal jenis Arora SA60L membelah langit Beijing pada Jumat sore (26/6), menyimpang dari rutenya, lalu menghantam CITIC Tower—gedung setinggi 528 meter yang menjadi simbol finansial dan politik di jantung ibu kota Cina.

Otoritas Distrik Chaoyang dengan cepat mengategorikan peristiwa ini sebagai “perkara yang membahayakan keamanan publik akibat alasan pribadi.” Namun, di balik istilah hukum tersebut, ada potret kelam yang jauh lebih personal: kisah seorang lansia bernama Liu (66 tahun), yang hidup dalam isolasi sosial, insomnia akut, dan gangguan kecemasan parah yang luput dari radar pengawasan.

Tragedi ini bukan sekadar tentang kegagalan navigasi atau keamanan udara, melainkan alarm keras tentang bagaimana rapuhnya kesehatan mental individu—khususnya lansia yang hidup sendiri—dapat bertransformasi menjadi ancaman nyata bagi keamanan nasional.

Hasil penyelidikan polisi membuka tabir kehidupan Liu yang sunyi. Sebagai seorang pekerja lepas yang telah bercerai dan tinggal sebatang kara di megapolitan Beijing, hari-hari Liu dipenuhi dengan perjuangan melawan insomnia dan kecemasan ekstrem. Di dalam buku hariannya, polisi menemukan coretan berulang yang mengekspresikan keinginan kuat untuk “mengakhiri hidup.”

Sayangnya, jeritan minta tolong dalam buku harian itu terkunci rapat sampai pesawat yang ia kemudikan menabrak lantai atas China Zun (nama lain CITIC Tower).

Boomerang Amandemen Wolf, Cara Barat Memaksa Cina Merajai Antariksa dan Sains Dunia

Kasus Liu menyoroti fenomena sosial yang kian nyata di kota-kota besar: isolasi sosial pada lansia. Tanpa sistem pendukung (support system) dari keluarga atau komunitas terdekat, depresi yang dialami Liu membusuk di ruang harian yang sepi, hingga akhirnya ia memutuskan untuk membawa keputusasaannya ke angkasa.

Liu tercatat mendapatkan lisensi terbang kelas olahraga pada 2021 dan baru saja memperbaharuinya menjadi lisensi terbang pribadi pada 2024. Artinya, secara legalitas teknis, ia sah untuk terbang. Hari itu, setelah melakukan penerbangan dengan pendamping di Distrik Pinggu, ia diizinkan terbang mandiri. Saat itulah ia mematikan kontak, berbelok arah, dan mengarahkan pesawatnya ke pusat bisnis Beijing.

Peristiwa ini menunjukkan adanya celah (gap) yang sangat fatal dalam proses penyaringan psikologis bagi pilot amatir atau sipil. Pemeriksaan medis penerbangan sering kali hanya fokus pada kesehatan fisik—jantung, mata, dan refleks—namun kerap abai terhadap kondisi mental yang fluktuatif seperti depresi dan insomnia, yang justru bisa menjadi “bom waktu” di kokpit.

Target dari penerbangan menyimpang Liu bukanlah gedung biasa. CITIC Tower adalah gedung tertinggi di Beijing yang menampung kantor pusat BUMN strategis di bawah Kementerian Keuangan Cina. Lokasinya sangat sensitif.

Fakta bahwa sebuah pesawat ringan bisa menyimpang dari pinggiran kota (Pinggu) hingga menabrak simbol finansial di pusat kota tanpa bisa dicegah, memicu ketakutan baru. Akibatnya, pemerintah Cina langsung bergerak cepat membatasi penerbangan pesawat kecil di wilayah udara mereka.

DPR Tegakan Pembangunan KEK Pariwisata Jangan Korbankan Warga demi Investasi

Meski Liu tewas di tempat, keputusasaannya berimbas pada 13 orang di dalam gedung yang terluka akibat pecahan kaca dan kepanikan. Dua panel kaca besar di lantai atas hancur, mengirimkan hujan serpihan material ke jalanan di bawahnya.

Di era digital, video jatuhnya serpihan pesawat tersebut sempat viral di media sosial Cina sebelum akhirnya dihapus secara masif oleh otoritas sensor. Penghapusan ini mengindikasikan betapa sensitifnya isu ini bagi stabilitas psikologis masyarakat Beijing.

Tragedi CITIC Tower adalah pengingat pahit bahwa di tengah modernisasi dan ketatnya pengawasan fisik di Cina, kesehatan jiwa manusia tetap menjadi wilayah yang paling sulit dideteksi. Tanpa adanya reformasi pada skrining mental pemegang lisensi terbang dan perhatian lebih pada isu kesehatan mental lansia, “ruang sepi” di dalam rumah-rumah urban akan terus berpotensi menjadi ancaman di ruang publik. []

× Advertisement
× Advertisement