Internasional
Beranda / Internasional / Boomerang Amandemen Wolf, Cara Barat Memaksa Cina Merajai Antariksa dan Sains Dunia

Boomerang Amandemen Wolf, Cara Barat Memaksa Cina Merajai Antariksa dan Sains Dunia

Info Massa – Ketika Amerika Serikat mengetok palu Amandemen Boomerang Amandemen Wolf: Cara Barat ‘Memaksa’ Cina Merajai Antariksa dan Sains DuniaWolf pada tahun 2011—sebuah aturan ketat yang melarang NASA bekerja sama dengan badan antariksa Cina—tujuannya jelas: memperlambat ambisi antariksa Beijing. Eropa pun perlahan mengikuti langkah ini dengan membatasi kolaborasi riset atas alasan keamanan militer (dual-use).

Namun, alih-alih lumpuh karena diisolasi, Cina justru dipaksa membangun ekosistemnya sendiri. Hasilnya? Hari ini Barat justru sedang menyaksikan lahirnya raksasa sains baru yang sulit untuk dikejar.

Simbol paling nyata dari kegagalan isolasi Barat berada di ketinggian 400 kilometer di atas kepala kita yakni Stasiun Luar Angkasa Tiangong.

Saat astronaut Cina dilarang menginjakkan kaki di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) milik AS dan sekutunya, Beijing memutuskan membuat laboratorium mikrogravitasi mereka sendiri. Di sana, taikonaut seperti Lai Kai-ying—perempuan Cina pertama yang mencapai orbit—kini mengelilingi Bumi 16 kali sehari untuk memimpin berbagai eksperimen masa depan.

Ironisnya, saat NASA berencana memensiunkan ISS pada tahun 2032 karena faktor usia, Tiangong diproyeksikan akan menjadi satu-satunya stasiun luar angkasa berpenghuni permanen di sekeliling Bumi.

Di Balik Tragedi CITIC Tower, Saat Kesehatan Mental Lansia Menjelma Jadi Ancaman Keamanan Publik

Mulai Oktober 2026, Cina justru membuka pintu Tiangong untuk dunia luar. Mereka akan menyambut astronaut asing pertama mereka—yang saat ini kandidatnya dari Pakistan sedang dilatih di Beijing—sebagai bentuk diplomasi antariksa baru.

Keberhasilan di luar angkasa hanyalah puncak gunung es dari dominasi teknologi Cina. Berdasarkan indeks terbaru dari penerbit jurnal ilmiah prestisius, Nature, Cina kini kokoh di peringkat pertama dalam riset sains global, melangkahi AS dan Jerman.

Hebatnya lagi, 9 dari 10 institusi riset terbaik di dunia saat ini berada di Cina. Universitas Harvard didepak ke posisi ketiga, sementara lembaga riset raksasa Jerman, Max Planck Society (MPG), terlempar ke peringkat 13.

Kemajuan ini bukan sihir instan. Ini adalah buah dari strategi “balas dendam” yang dingin lewat investasi jangka panjang. Selama 20 tahun terakhir, Beijing mengucurkan dana tak terbatas untuk infrastruktur riset skala besar.

Analisis bibliometrik menunjukkan bahwa riset Cina bukan sekadar banyak secara jumlah, melainkan menjadi riset yang paling sering dikutip oleh ilmuwan dunia di bidang biologi, kimia, dan fisika.

DPR Tegakan Pembangunan KEK Pariwisata Jangan Korbankan Warga demi Investasi

Dalam Rencana Lima Tahun ke-15 (2026–2030), fokus Beijing beralih ke “kekuatan produktif baru” yang radikal, mulai dari teknologi kuantum, fusi nuklir, hingga antarmuka otak-komputer (brain-computer interface).

Kemandirian ini menciptakan situasi yang canggung bagi negara-negara Barat. Di satu sisi, ada ketakutan politik; di sisi lain, ilmuwan Barat tahu mereka akan tertinggal jika tidak bekerja sama dengan Cina.

Jerman, misalnya, meski membatasi kerja sama yang sensitif, masih “memohon” akses untuk menggunakan Five-hundred-meter Aperture Spherical Radio Telescope (FAST) di Guizhou—teleskop radio terbesar di dunia yang diameternya setara lima lapangan sepak bola.

Cina juga menjadi satu-satunya negara yang berhasil membawa pulang sampel batuan dari sisi jauh Bulan, materi vital yang krusial untuk rencana pembangunan pangkalan permanen di Bulan pada 2030. Sementara itu, proyek Artemis milik NASA untuk kembali ke Bulan justru terus didera penundaan pakaian antariksa dan manajemen.

Sejarah perlombaan antariksa abad ke-21 mengajari kita satu hal: mengisolasi negara dengan populasi miliaran dan dana tak terbatas tidak akan menghentikan mereka. Itu hanya akan membuat mereka membangun roket yang lebih cepat, teleskop yang lebih besar, dan stasiun luar angkasa yang sepenuhnya milik mereka sendiri. []

Fly Over Latumenten Dikebut Untuk Urai Kemacetan

× Advertisement
× Advertisement