Info Massa – Nama Santiago Pena mendadak menjadi sorotan global setelah karier politiknya yang gemilang berujung pada kejatuhan dramatis. Pemimpin yang dikenal sebagai teknokrat ulung dan mantan bankir ini harus rela lengser dari kursi kepresidenan Paraguay di tengah krisis keuangan massal yang mengguncang negara.
Perjalanan hidup Pena dari seorang ekonom muda hingga mencapai puncak kekuasaan sebelum akhirnya terjungkal oleh skandal menjadi salah satu kisah politik paling menarik sekaligus kontroversial dalam sejarah modern Amerika Latin.
Lahir di Asunción pada 16 November 1978, Santiago Pena Palacios tumbuh dengan minat yang mendalam pada dunia ekonomi. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana ekonominya di Catholic University of Asunciónpada tahun 2001, sebelum melanjutkan studi pascasarjana di Columbia University, New York, Amerika Serikat, dan meraih gelar Magister Administrasi Publik.
Kehidupan pribadinya sering disorot media karena ia menikah di usia sangat muda dan telah menjadi seorang ayah pada usia 17 tahun. Meskipun memikul tanggung jawab keluarga di usia remaja, hal tersebut tidak menghalanginya untuk membangun rekam jejak profesional yang impresif.
Sebelum terjun sepenuhnya ke krawangan politik formal, Pena mendedikasikan sebagian besar awal kariernya di lembaga keuangan nasional dan internasional.
Ia bekerja sebagai ekonom di bank sentral dari tahun 2000 hingga 2009, dan kemudian diangkat menjadi Anggota Dewan Direksi pada tahun 2012. Pena sempat berkarier di Washington D.C. sebagai ekonom IMF yang fokus mengawasi negara-negara di wilayah Afrika Sub-Sahara.
Ia juga aktif membagikan ilmunya sebagai profesor pengajar teori ekonomi di almamaternya, Catholic University of Asunción.
Karier politik Peña melesat ketika ia bergabung dengan Partai Colorado (Colorado Party), partai konservatif yang telah mendominasi lanskap politik Paraguay selama berpuluh-puluh tahun.
Pada Januari 2015, di usia yang baru menginjak 36 tahun, Peña ditunjuk sebagai Menteri Keuangan (Hacienda) oleh Presiden Horacio Cartes. Penunjukan ini menjadikannya salah satu menteri keuangan termuda di kawasan Amerika Latin. Di bawah kepemimpinannya di sektor fiskal, ia dipuji karena sukses menerapkan strategi inklusi keuangan dan menjaga stabilitas makroekonomi Paraguay di tengah ketidakpastian regional.
Setelah sempat bergabung dan keluar dari partai, ambisi politik Peña membawanya maju sebagai calon presiden pada pemilihan umum tahun 2023. Didukung oleh faksi kuat dalam Partai Colorado, ia berhasil meraih kemenangan telak dengan meraup sekitar 42,7% suara, mengungguli rival utamanya dari kubu tengah-kiri.
Saat dilantik sebagai Presiden ke-52 Paraguay, Peña mengusung janji-janji reformasi ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan modernisasi digital negara. Ia sering memposisikan dirinya sebagai pemimpin modern yang memahami denyut nadi finansial global.
Ironisnya, latar belakang keuangan yang menjadi kekuatan utamanya justru berbalik menjadi kuburan politik baginya. Kepiawaian teknokratis Peña runtuh seketika ketika krisis likuiditas dan kolapsnya lembaga keuangan digital Ueno Bank melanda Paraguay.
Runtuhnya bank tersebut membekukan akses tabungan dan dana pensiun dari tiga juta warga—lebih dari separuh populasi negara. Situasi semakin memperkeruh posisi Peña karena ia tercatat pernah memiliki saham di perusahaan yang menaungi bank tersebut sebelum menjabat presiden.
Tekanan publik yang masif berubah menjadi badai politik ketika parlemen menolak surat pengunduran dirinya dan memilih jalur pemakzulan formal. Dalam hitungan hari, pria yang dulunya dipuja sebagai ekonom jenius ini harus kehilangan kekebalan hukum, dilucuti kursi senat seumur hidupnya, dan mendekam di bawah tahanan rumah untuk menghadapi investigasi hukum atas dugaan konflik kepentingan dan penyalahgunaan wewenang.
Kisah Santiago Peña menjadi ironi klasik tentang bagaimana seorang teknokrat andal yang naik ke puncak kekuasaan melalui janji kemakmuran, harus jatuh terpental akibat badai krisis finansial yang gagal diantisipasinya sendiri.