Info Massa – Aksi ekstrem membakar diri (self-immolation) telah menjadi salah satu bentuk protes paling tragis sekaligus mengguncang dunia dalam sejarah modern. Di ranah perjuangan masyarakat Tibet, aksi ini kerap dikaitkan erat dengan satu kata, Rangzen—yang berarti “Kemerdekaan Penuh”.
Siapa sebenarnya para aktivis Rangzen ini, dan apa yang mendorong mereka memilih api sebagai medium perlawanan terakhir?
Secara harfiah, Rangzen (rang btsan) dalam bahasa Tibet berarti kemerdekaan atau kebebasan.
Dalam lanskap politik Tibet, gerakan ini memiliki spektrum yang berbeda dengan pendekatan resmi Dalai Lama, yang dikenal sebagai “Jalan Tengah” (Middle Way Approach). Jika Dalai Lama memperjuangkan otonomi khusus yang bermakna di bawah payung Konstitusi Republik Rakyat Tiongkok (RRT), para aktivis Rangzen menuntut kedaulatan penuh dan pemisahan diri total dari Beijing.
Dilihat dari basis gerakan, didominasi oleh generasi muda Tibet di pengasingan, organisasi seperti Tibetan Youth Congress (TYC), serta para aktivis independen.
Target perjuangan mereka yakni mengembalikan status Tibet sebagai negara merdeka yang berdaulat, seperti sebelum tahun 1950-an.
Sejak tahun 2009, lebih dari 150 warga Tibet—termasuk biksu, biksuni, mahasiswa, dan masyarakat awam—telah melakukan aksi bakar diri di dalam wilayah Tibet maupun di pengasingan (seperti di India dan Nepal).
Bagi para aktivis Rangzen, aksi radikal ini bukanlah tindakan keputusasaan personal, melainkan sebuah protes politik tingkat tinggi dan pengorbanan diri (self-sacrifice).
Di bawah pengawasan ketat keamanan Tiongkok, protes massal konvensional (seperti demonstrasi jalanan) hampir mustahil dilakukan tanpa memicu penangkapan massal langsung.
Api dianggap sebagai jeritan visual yang tidak bisa diabaikan oleh media internasional dan komunitas global.
Banyak pelaku aksi meninggalkan pesan terakhir yang menegaskan bahwa mereka tidak membenci individu tertentu, melainkan memprotes kebijakan sistemik yang dianggap mengikis identitas, bahasa, dan agama Tibet.
Beberapa figur Rangzen dan aktivis yang aksi bakar dirinya mencatat sejarah kelam namun signifikan dalam gerakan ini antara lain, Thupten Ngodup, pada 1998 di New Delhi, India. Veteran tentara yang melakukan aksi saat polisi India membubarkan mogok makan massal aktivis Tibet. Ia dianggap sebagai martir modern pertama gerakan Rangzen.
Selanjutnya, Tapey, 2009 di Ngaba, Tibet. Seorang biksu muda dari Biara Kirti. Aksinya menandai gelombang baru bakar diri massal di dalam wilayah Tibet.
Lalu Jamphel Yeshi, peristiwa 2012 di New Delhi, India. Aktivis muda berusia 27 tahun. Ia berlari di tengah demonstrasi menentang kunjungan Presiden Tiongkok ke India sambil mengibarkan bendera Tibet dalam kobaran api.
Isi profil gerakan ini selalu memicu polarisasi tajam di panggung geopolitik.
Beijing secara konsisten mengutuk aksi bakar diri tersebut. Pemerintah RRT menuduh “Klik Dalai Lama” dan kelompok separatis luar negeri memanipulasi serta menghasut anak-anak muda Tibet untuk melakukan tindakan ekstrem demi agenda politik. Beijing menegaskan bahwa Tibet telah mengalami kemajuan ekonomi dan modernisasi pesat di bawah kendali mereka.
Mereka menegaskan aksi tersebut adalah tindakan spontan akibat tekanan psikologis, budaya, dan politis yang masif di dalam Tibet. Mereka menuntut penarikan pasukan keamanan Tiongkok dan kembalinya Dalai Lama ke Lhasa.
Aksi bakar diri demi Rangzen tetap menjadi salah satu bab paling kelam dan paling rumit dalam konflik Tibet-Tiongkok. Bagi para pendukungnya, api tersebut adalah simbol perlawanan utama yang membakar penindasan. Namun bagi dunia internasional, fenomena ini menjadi pengingat tragis akan kebuntuan politik yang belum menemukan jalan keluar damai hingga hari ini. []